
Prabowo Subianto
JawaPos.com - Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto diduga melakukan blunder, lantaran menyebut ongkos pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Palembang kelewat mahal. Sehingga menyebut adanya mark up proyek itu sampai 500 persen.
Padahal Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memaparkan pembanguanan LRT di Palembang sudah murah. Karena biaya yang dikeluarkan untuk 24 km hanya Rp 10,9 triliun. Sementara Prabowo meyebut indeks termahal LRT di dunia adalah USD 8 juta per km atau sekitar Rp 112 miliar.
Lantas bagaimana Partai Gerindra menanggapi hal itu?.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono mengatakan data yang dimiliki adalah benar tidak mungkin mengada-ada. Jadi tidak hanya melemparkan data bohong ke publik.
"Yang paling benar itu Pak Prabowo. Karena saya tahu data-data itu," ujar Arief kepada JawaPos.com, Sabtu (26/6).
Menurut Arief, apa yang dikatakan Prabowo juga benar, mahalnya proyek LRT Palembang karena adanya mark up. Sehingga publik jangan meragukan data yang dimiliki si ketua umumnya.
"Memang salah satu penyebabnya mahalnya LRT itu mark up. Sehingga LRT di Indonesia lebih mahal," katanya.
Mantan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga menegaskan, Prabowo tidak meminta maaf karena adanya data dengan pemerintah itu berbeda. Bahkan dia menantang dibuka ke publik untuk diperbandingkan siapa yang benar dan salah.
"Minta maaf ngapain?. Ayo saja kita apple to apple saja," tegasnya.
Oleh sebab itu, sebaiknya Presiden Joko Widodo (Jokowi) jangan marah ataupun 'kebakaran jenggot' karena program transportasinya di kritik Prabowo mahal. Jokowi mesti sadar apa yang disampaikan oleh Prabowo Subianto adalah baik bagi Indonesia.
"Jadi kalau dibilang harganya lebih mahal kok marah. Ngaca dulu. Sadar kita mengkritik untuk benar. Biar Jokowi enggak menghabiskan duit negara utang luar negeri," pungkasnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) LRT Palembang dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub), Suranto menyebut tudingan Prabowo tidak tepat. Termasuk, soal dugaan mark up proyek sampai 500 persen.
Prabowo menyebut indeks termahal LRT di dunia adalah USD 8 juta per km atau sekitar Rp 112 miliar. Ditegaskannya, berdasarkan data yang dimilikinya bahwa pembangunan LRT di Palembang sudah termasuk termurah. Karena biaya yang dikeluarkan untuk 24 kilometer hanya Rp 10,9 triliun, mengingat telah dilakukan pemotongan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu) RI dari semula yakni sebesar Rp 12,5 triliun (kurs USD 1 adalah Rp 14.000).
Sementara suber dari United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (Unescap) menyebut LRT di Amerika Serikat per km bisa menelan dana USD 21,6 juta atau sekitar Rp 302,4 miliar.
Proyek ekstensi LRT di negara tetangga, Filipina juga lebih mahal dari Indonesia. Mengutip data dari Public Private Partneship-Center Filipina, untuk ekstensi jalur kereta sampai 11,7 kilometer adalah PHP 64,9 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun. Itu berarti, per km proyek esktensi dari Stasiun Baclaran ke Stasiun Niyog setara Rp 1,4 triliun.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
