Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Oktober 2025 | 22.11 WIB

Tata Dunia Baru: Peluang dan Tantangan Indonesia di Era Multipolar

Ilustrasi tatanan dunia multipolar yang menunjukkan pergeseran kekuatan global ke arah yang lebih seimbang. (Press Xpress) - Image

Ilustrasi tatanan dunia multipolar yang menunjukkan pergeseran kekuatan global ke arah yang lebih seimbang. (Press Xpress)

JawaPos.com - Dunia sedang berubah. Hegemoni tunggal yang dulu mendominasi politik global perlahan mulai pudar. Kini, peta kekuasaan internasional bergerak menuju sistem multipolar, sebuah tatanan baru di mana lebih dari satu negara memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah dunia.

Dilansir dari International Scientific Journal “The Caucasus and the World”, perubahan ini tidak muncul begitu saja. Marina Izoria, peneliti asal Georgia, menjelaskan bahwa multipolaritas adalah konsekuensi dari meningkatnya kekuatan ekonomi, politik, dan militer negara-negara non-Barat seperti Tiongkok, India, dan Rusia. Ketiga kekuatan tersebut kini menentang dominasi tunggal Amerika Serikat yang selama beberapa dekade menjadi aktor sentral dalam sistem internasional.

Menurut Izoria, dalam teori hubungan internasional, multipolaritas dapat dilihat melalui beberapa pendekatan. Dari perspektif realisme, multipolaritas merupakan hasil alami dari distribusi kekuatan yang semakin merata.

Dari sudut konstruktivisme, sistem ini terbentuk karena wacana politik luar negeri dan persepsi baru yang dibangun oleh negara-negara penantang hegemoni lama. Sementara pendekatan peradaban menyoroti munculnya kekuatan regional yang berakar pada identitas budaya dan wilayah tertentu, seperti Eurasia dan Asia Timur.

Namun, perubahan struktur kekuasaan global ini tidak hanya berdampak pada negara-negara besar. Negara berkembang seperti Indonesia justru memiliki ruang manuver baru dalam lanskap politik multipolar. Hal ini dijelaskan oleh Stanislav Vladimirov dan Mohamad Fikri Sulthan dalam artikel berjudul Multipolar International System and the Place of Indonesia: Prospect and Opportunities yang dimuat dalam Journal of Advanced Social and Political Studies.

Dilansir dari jurnal tersebut, Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang berpotensi diuntungkan dari munculnya sistem multipolar. Dengan posisi geografis strategis di antara dua samudra dan dua benua, serta ekonomi yang tumbuh stabil, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperkuat peran diplomatik dan ekonominya di kawasan Indo-Pasifik.

Vladimirov dan Sulthan menekankan bahwa multipolaritas memberi ruang bagi negara menengah seperti Indonesia untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih fleksibel tanpa harus terikat pada satu blok kekuatan.

Meski demikian, sistem multipolar juga membawa tantangan tersendiri. Rivalitas antara kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok berpotensi menimbulkan instabilitas di kawasan. Dalam konteks ini, Indonesia harus berhati-hati agar tidak terseret dalam politik “blok baru” yang dapat mengancam prinsip bebas aktif yang telah lama menjadi dasar diplomasi nasional.

Selain aspek politik, Izoria juga menyoroti bahwa multipolaritas kini merambah ke bidang lain seperti ekonomi, teknologi, dan keamanan siber. Dalam dunia yang saling terhubung, kekuasaan global tidak lagi hanya ditentukan oleh militer, tetapi juga oleh kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi dan mengelola sumber daya digital. Bagi Indonesia, ini berarti perlunya memperkuat ketahanan ekonomi dan teknologi sebagai bagian dari strategi menghadapi dinamika multipolar.

Seperti dikutip dari JASSP, Indonesia dapat memanfaatkan sistem multipolar untuk memperluas diplomasi multi-arah (multi-alignment diplomacy). Pendekatan ini memungkinkan Indonesia menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak, baik dengan Barat, Timur, maupun blok baru seperti BRICS, tanpa kehilangan kemandirian dalam pengambilan keputusan luar negeri.

Perubahan menuju dunia multipolar bukanlah sekadar transisi geopolitik, tetapi transformasi besar dalam cara negara-negara berinteraksi. Indonesia kini berada di persimpangan penting, antara menjaga keseimbangan dalam politik global dan memperkuat posisinya sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh. Dengan prinsip bebas aktif dan diplomasi adaptif, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam babak baru tata dunia yang lebih beragam dan dinamis. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore