
Ketua DPR RI, Puan Maharani, membuka Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2024–2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/6).
JawaPos.com - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti lonjakan jumlah perokok di kalangan remaja yang dinilai dapat menjadi ancaman serius terhadap masa depan bangsa. Ia menegaskan, negara tidak boleh diam untuk melindungi generasi muda dari gempuran industri rokok yang kini menyasar anak-anak dan remaja.
“Ketika anak-anak dan remaja sudah menjadi target pasar industri rokok, itu artinya kita sedang kehilangan kendali atas masa depan. Negara tidak boleh diam,” kata Puan kepada wartawan, Selasa (1/7).
Pernyataan itu dilontarkan menyusul data peningkatan perokok remaja, seperti yang terjadi di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Berdasarkan hasil skrining Dinas Kesehatan setempat terhadap 3.841 pelajar SMP dan SMA menunjukkan sebanyak 466 siswa atau 12,13 persen telah merokok.
Puan menegaskan, perlindungan terhadap anak merupakan mandat konstitusi yang harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan konkret. Ia juga mengingatkan, Indonesia telah meratifikasi sejumlah perjanjian internasional tentang hak anak.
“Komitmen itu harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, bukan hanya pada tataran slogan,” tegas Puan.
Menurut Puan, meningkatnya prevalensi perokok remaja menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap distribusi rokok, longgarnya regulasi iklan dan promosi, serta belum optimalnya edukasi bahaya merokok di sekolah dan keluarga.
“Jika kita abai sekarang, kita sedang membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam budaya adiktif yang akan berdampak buruk bagi kesehatan nasional dan kualitas SDM," ujarnya.
Ia juga menyinggung dampak sosial dan ekonomi dari rokok, terutama bagi keluarga rentan. Berdasarkan data BPS, rokok merupakan pengeluaran terbesar kedua rumah tangga setelah beras.
Lebih lanjut, Puan menekankan komitmen DPR RI untuk mendorong reformasi regulasi pengendalian tembakau dan perlindungan anak secara menyeluruh. Ia menyerukan pembatasan iklan dan promosi rokok di ruang publik serta pengawasan ketat penjualan rokok di dekat sekolah.
Selain itu, ia mendorong integrasi kurikulum anti-merokok di sekolah dan pesantren, serta mengatur pajangan rokok agar tidak menarik perhatian anak-anak.
“Kita juga perlu mempercepat pembahasan dan pengesahan regulasi yang berpihak pada kesehatan anak,” pungkasnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
