R. Haidar Alwi selaku pendiri Haidar Alwi Institute. (Istimewa)
JawaPos.com – Detik-detik menyambut pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, muncul isu adanya pertemuan antara Ketum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo. Di tengah isu tersebut, muncul sejumlah anilisis, apakah partai banteng moncong putih itu akan bergabung pada pemerintahan Prabowo atau menjadi oposisi.
Hitung-hitungan atau analisis posisi PDIP apakah masuk dalam pemerintahan atau menjadi oposisi disampaikan pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) R. Haidar Alwi. Menurut dia, rencana pertemuan antara Prabowo dengan Megawati, kalaupun terwujud, tidak bermanfaat secara politik. Kecuali PDIP bergabung dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.
Baca Juga: Mengintip Potensi Hukuman Tambahan Komdis PSSI untuk Gelandang Persebaya Surabaya Andre Oktaviansyah
Haidar mengatakan sisi negatif jika PDIP bergabung dengan pemerintahan Prabowo, justru lebih besar. ’’Karena tidak ada lagi partai politik yang menjadi kontrol kekuasaan, jika PDIP bergabung juga ke dalam pemerintahan Prabowo-Gibran,’’ kata Haidar dalam keterangannya Minggu (15/9).
Dia mengatakan jika PDIP menyatakan bergabung dengan pemerintahan Prabowo, tentu tidak gratis. Sebagai partai pemenang Pemilu 2024, PDIP tentu memiliki daya tawar tersendiri. Apalagi PDIP sampai saat ini menjadi satu-satunya partai yang belum deklarasi masuk dalam koalisi Prabowo-Gibran.
’’Dengan kondisi demikian, PDIP berada pada posisi tawar yang lebih tinggi. Apalagi PDIP tahu bahwa Prabowo tidak menginginkan adanya oposisi. Karena itu, PDIP pastinya akan jual mahal,’’ jelas Haidar.
Di sisi lain, Haidar menyampaikan ada beberapa faktor yang membuat PDIP bakal sulit untuk berlabuh di pemerintahan Prabowo. Diantaranya adalah faktor sejarah. Haidar mengatakan secara pribadi, Prabowo dengan Megawati memiliki hubungan yang sangat baik.
Tetapi dari faktor sejarah, ada yang sedikit menjadi penyekat keduanya. Yaitu sejarah pergolakan antara orde baru dengan orde lama.
Faktor berikutnya adalah hubungan Megawati dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Publik memahami sejak Pemilu 2004 lalu, hubungan antara Megawati dengan SBY cukup renggang. Sedangkan di koalisi Prabowo-Gibran saat ini, ada Partai Demokrat yang menjadi representasi sosok SBY.
Faktor berikutnya yang membuat PDIP dinilai berat bergabung dengan pemerintah Prabowo-Gibran adalah keberadaan Joko Widodo. Haidar mengamati PDIP menilai Joko Widodo sebagai pengkhianat partai. Indikasinya adalah Jokowi memberikan dukungan terhadap Prabowo untuk jadi Presiden.
Kemudian majunya Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Joko Widodo, mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2024 lalu. Termasuk juga pemecatan Bobby Nasution, menantu Joko Widodo, sebagai kader PDIP juga menjadi indikator tidak harmonisnya hubungan PDIP dengan Joko Widodo.
"Bagi Megawati dan PDIP, semua itu mungkin berbau pengkhianatan. Tapi menurut saya, Jokowi justru berusaha memenuhi salah satu isi perjanjian batu tulis antara Megawati dengan Prabowo," pungkas Haidar.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Fulham vs AFC Wimbledon di EFL Cup 2026/2027: Misi Bangkit The Cottagers
Tak Terbukti Terima Uang dan Perkaya Diri Sendiri, Eks Kabaranahan Kemhan Tetap Dihukum 2,5 Tahun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor CSKA Sofia vs OFI Crete di Kualifikasi Liga Europa 2026/2027: Kans Lolos O Ómilos!
