Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Agustus 2015 | 03.40 WIB

Tri Rismaharini tentang Dagelan Politik Pilwali Surabaya

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bersama Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandy. Foto Fedrik Tarigan/JawaPos.com - Image

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bersama Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandy. Foto Fedrik Tarigan/JawaPos.com

Dagelan politik berupa bakal calon kabur dari KPU Surabaya pada batas waktu pendaftaran membuat Pilkada Surabaya 2015 ditunda.

Hal itu tentu saja merugikan calon incumbent Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang punya peluang besar menang jika pilkada tetap sesuai jadwal.

Kini Risma –sapaan Tri Rismaharini– harus bersabar menunggu hingga Februari 2017 jika ingin terpilih lagi sehingga bisa meneruskan pengabdian memimpin Kota Surabaya.

Namun, di pilkada tunda tersebut, status Risma bukan lagi incumbent. Sebab, masa jabatan wali kota perempuan pertama di Surabaya itu berakhir 28 September nanti.

Dengan sisa waktu kurang dari dua bulan, Risma kini mengebut pekerjaan-pekerjaan yang belum dituntaskan.

Selasa (4/8) calon wali kota tunggal Pilwali Surabaya 2015 tersebut terbang ke Jakarta untuk melobi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi supaya alokasi calon pegawai negeri sipil Surabaya ditambah.

Setelah bertemu dengan Yuddy, alumnus ITS Surabaya itu bercerita blak-blakan tentang rencana-rencananya jika sudah tak menjabat wali kota.

Pilkada Surabaya ditunda karena bakal calon kabur. Bagaimana komentar Anda?

Ya gak apa-apa. Saya tidak dirugikan. Gusti Allah maunya seperti itu. Dikira enteng jadi wali kota Surabaya. Abot (berat) jadi wali kota Surabaya itu.

Adakah skenario besar di balik ini?

Aku gak ngerti dan aku gak tahu.

Setelah melepas jabatan wali kota, apa kesibukan yang Ibu siapkan?

Ya, aku kerja di tempat lain. Nanti pasti tahu sendiri. Masyarakat Surabaya kan dirugikan atas kejadian seperti ini. Nanti masyarakat Surabaya kan bisa menentukan nasib sendiri.

Memangnya selama ini tidak ada komunikasi dengan partai di luar partai pendukung?

Jadi kan gini ya, kita kan bisa tahu, kami tidak ada money politics sama sekali. Kalau dengan uang, kemarin mungkin selesai. Kami tidak mau ada uang. Ya akhirnya jadinya begini.

Editor: Arwan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore