Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Desember 2018 | 03.10 WIB

Kata Peneliti LIPI, yang Dukung Orde Baru itu Dulunya Penindas

Peneliti bidang politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai, milenial cenderung tidak akan tertarik dengan isu-isu orde baru ini. Karena mereka dasarnya tidak mengalami kejadian tersebut. - Image

Peneliti bidang politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai, milenial cenderung tidak akan tertarik dengan isu-isu orde baru ini. Karena mereka dasarnya tidak mengalami kejadian tersebut.


JawaPos.com - Suara kaum milenial menjadi rebutan dua pasang calon presiden di pilpres 2019. Namun, anehnya isu yang justru gencar dimainkan  malah soal orde baru. 


Isu positif orde baru juga paling gencar dimainkan oleh Partai Berkarya. Karena mereka mengklaim masyarakat banyak yang ingin kembali ke romantisme era Presiden Soeharto.


Kamudian isu lainnya adalah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang buka peluang untuk membahas soal era korupsi orde baru pada saat debat capres nanti.


Menanggapi itu, Peneliti bidang politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menilai, milenial cenderung tidak akan tertarik dengan isu-isu orde baru ini. Karena mereka dasarnya tidak mengalami kejadian tersebut.


"Milenial tidak punya rasa ingin tahu tinggi. Jadi mungkin tidak akan tertarik," ujar pria yang akrab disapa Kikik saat menjadi pembicara dalam diskusi Populi Center, Slipi, Jakarta, Kamis (6/12).


Namun demikian, dia menilai ada saja milenial yang ingin mencari tahu mengenai kondisi pemerintahan di zaman Orde Baru. Mereka yang sudah mencari tahu tentang orde baru tentu akan kecewa. Karena semua pemerintahan Soeharto adalah omong kosong semuanya.


"Banyak milenial yang cerdas dia akan menelusuri, buka kembali file lama. Sehingga bisa mengetahui siapa yang penjahat HAM, dan siapa yang merampok ekonomi kita," tambahnya.


Menurut Kikik, apabila ada pihak yang ingin menghidupkan kembali era Orde Baru. Maka sudah pasti mereka yang mendukung dahulunya adalah seorang penindas di zaman Soeharto. Sehingga orang-orang itu ingin mengulang romatismenya lagi.


"Kalau orang tua yang dahulu ikut menindas pasti akan tertarik. Kalau orang-orang yang dapatkan sekeping rezeki dari Orde Baru akan gabung. Tapi jumlahnya enggak banyak. Karena lebih banyak yang terindas," pungkasnya. 


Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore