
Bintang-bintang baru timnas Belgia, Jeremy Doku, Leandro Trossard, dan Lois Openda. (Joris Verwijst/BSR Agency)
JawaPos.com - Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi ajang pembuktian bagi timnas Belgia di lapangan. Turnamen di Amerika Utara itu juga menghadirkan cerita menarik dari luar pertandingan, yakni tentang bagaimana sepak bola mampu menyatukan masyarakat Belgia yang selama ini dikenal memiliki perbedaan bahasa dan identitas budaya.
Saat Belgia bersiap menghadapi Mesir pada laga pembuka fase grup, ribuan pendukung Red Devils diperkirakan akan memadati stadion di Seattle. Namun ada satu pemandangan unik yang hampir selalu muncul ketika tim nasional Belgia bertanding: para suporter tidak menyanyikan lagu kebangsaan dalam bahasa yang sama.
Belgia memiliki tiga bahasa resmi, yaitu Belanda (Flemish), Prancis, dan Jerman. Kondisi tersebut membuat lagu kebangsaan negara itu dapat dinyanyikan dalam beberapa versi berbeda secara bersamaan.
Meski terdengar tidak biasa bagi negara peserta Piala Dunia lainnya, hal tersebut justru menjadi simbol persatuan yang selama ini dijaga oleh para pendukung tim nasional Belgia. Di Belgia, perbedaan bahasa bukan sekadar persoalan komunikasi.
Negara dengan populasi sekitar 11 juta jiwa itu terdiri dari wilayah Flanders yang mayoritas berbahasa Belanda di bagian utara, Wallonia yang menggunakan bahasa Prancis di selatan, serta komunitas kecil berbahasa Jerman di bagian timur.
Perbedaan tersebut bahkan kerap memunculkan perdebatan politik dan sosial di dalam negeri. Namun ketika tim nasional bermain, batas-batas itu seolah menghilang.
Bagi banyak warga Belgia, sepak bola menjadi salah satu sedikit ruang yang mampu menghadirkan rasa kebersamaan tanpa memandang latar belakang daerah maupun bahasa. Semangat itu tercermin dari slogan yang paling sering diteriakkan para pendukung Belgia, yakni Tous Ensembles yang berarti Bersama-sama.
Menariknya, slogan berbahasa Prancis tersebut juga diteriakkan oleh suporter dari wilayah Flanders yang sehari-hari menggunakan bahasa Belanda. Sebaliknya, lagu-lagu dukungan yang berasal dari komunitas Flemish juga dinyanyikan oleh pendukung dari Wallonia.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana sepak bola berhasil menjembatani perbedaan yang selama ini ada di masyarakat Belgia. Tradisi kebersamaan para suporter Belgia juga terlihat saat mereka melakukan perjalanan mendukung tim nasional ke berbagai negara.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022