Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Juni 2026 | 00.15 WIB

Herlina Harsono Njoto Raih Gelar Doktor Psikologi Unair, Tawarkan Teori Baru soal Loyalitas Kader Partai

Politisi Partai Demokrat sekaligus Anggota DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto. (Istimewa). - Image

Politisi Partai Demokrat sekaligus Anggota DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto. (Istimewa).

JawaPos.com – Politisi Partai Demokrat sekaligus Anggota DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, resmi menyandang gelar doktor setelah menyelesaikan ujian terbuka Program Doktor Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Melalui disertasinya, Herlina mengangkat tema komitmen afektif kader partai politik dan menawarkan perspektif baru mengenai faktor yang membentuk loyalitas kader dalam organisasi politik.

Momen akademik tersebut turut menjadi ajang silaturahmi berbagai kalangan. Sejumlah pejabat, politisi, dan akademisi tampak hadir memberikan dukungan, di antaranya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Sekretaris DPD Demokrat Jawa Timur H. Mugianto, S.Pd., M.H., Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri, Ketua APSI Surabaya sekaligus Inspektur Kota Surabaya Dr. Ikhsan, S.Psi., M.M., Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Rr. Amanda Pasca Rini, M.Si., Psikolog, serta Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Lambung Mangkurat Dr. Neka Erlyani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. 

Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan atas pencapaian akademik Herlina yang berhasil menuntaskan studi doktoralnya di tengah aktivitas politik dan tugas sebagai legislator.

Capaian akademik tersebut mendapat apresiasi dari Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog. Menurut dia, karya tersebut lahir dari perpaduan pengalaman panjang Herlina di dunia politik dengan proses akademik yang ketat selama menempuh pendidikan doktoral.

Suryanto menilai Herlina memiliki sudut pandang yang unik karena tidak mengamati dunia politik dari luar, melainkan mengalaminya secara langsung sebagai kader partai dan anggota legislatif. 

Pengalaman itu membuatnya mampu melihat bahwa kehidupan partai tidak hanya ditentukan oleh struktur organisasi, jabatan, atau kepentingan kekuasaan, tetapi juga oleh faktor psikologis yang membentuk keterikatan seseorang terhadap organisasi.

“Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang dapat bertahan karena merasa tidak memiliki pilihan, karena mempertimbangkan kerugian yang akan diterima, atau karena benar-benar memiliki keterikatan emosional terhadap partainya,” ujar Suryanto, Senin (22/6/2026).

Menurut Suryanto, salah satu kekuatan penelitian itu adalah keberanian Herlina mengurai makna loyalitas politik secara lebih mendalam. Penelitian tersebut tidak berhenti pada pengolahan data statistik, tetapi berusaha menjelaskan alasan seseorang tetap bertahan, berpindah, atau kehilangan keterikatan dengan partai yang selama ini menjadi rumah politiknya.

Salah satu momen penting dalam sidang terbuka terjadi ketika Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Andik Matulessy, meminta Herlina merumuskan kontribusi teoritis utama dari disertasinya bagi perkembangan psikologi politik Indonesia.

Menjawab pertanyaan tersebut, Herlina menegaskan bahwa komitmen emosional kader partai ternyata tidak terutama dibangun melalui hubungan yang bersifat transaksional. Menurut dia, identitas sosial dan kepemimpinan transformasional justru menjadi faktor yang lebih menentukan dalam membangun loyalitas kader.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore