
Direktorat SMP Kemendikdasmen gandeng Arasoft untuk digitalisasi buku. (Istimewa)
JawaPos.com-Digitalisasi pendidikan kian mendesak di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Direktorat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan perusahaan teknologi penerbitan digital asal Korea Selatan Arasoft mengembangkan buku digital interaktif jenjang SMP.
Direktur SMP Maulani Mega Hapsari menegaskan, digitalisasi bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diimplementasikan dalam sistem pembelajaran.
“Guru tidak boleh hanya mengandalkan bahan ajar konvensional. Mereka perlu beradaptasi, memanfaatkan bahan digital, sekaligus mampu menciptakan konten interaktif yang sesuai dengan karakter siswa abad ke-21,” ujar Maulani Mega Hapsari dalam workshop pengembangan buku digital di Jakarta.
Workshop tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan buku digital, tetapi juga melatih guru agar memiliki keterampilan memproduksi materi ajar interaktif yang lebih menarik.
Menurut Maulani, langkah ini sangat penting agar digitalisasi pendidikan tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan benar-benar meningkatkan mutu pembelajaran.
Meski digitalisasi pendidikan dianggap sebagai solusi, tantangan besar masih menghadang. Di antaranya, keterbatasan infrastruktur internet di sejumlah daerah, kesenjangan akses perangkat belajar, serta kesiapan guru yang belum merata.
Direktorat SMP menyadari hal ini, sehingga program pengembangan buku interaktif dirancang tidak hanya untuk sekolah di perkotaan, tetapi juga mendorong pemerataan akses bagi siswa di daerah.
Kerja sama dengan Arasoft, lanjut Maulani, diharapkan mempercepat proses adaptasi guru terhadap teknologi sekaligus memperkuat upaya pemerintah membangun pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing global.
“Dengan inovasi ini, kita memperkuat kompetensi literasi, numerasi, sekaligus kreativitas peserta didik,” ujar Maulani Mega Hapsari.
Digitalisasi pendidikan menjadi bagian integral dari agenda prioritas kementerian. Seperti Wajib Belajar 13 Tahun, penguatan karakter, peningkatan kesejahteraan guru, serta penyediaan sarana pembelajaran digital.
Semua diarahkan untuk menciptakan ekosistem SMP yang inovatif dan mampu menjawab tantangan abad ke-21.
“Jika dunia kerja saja sudah menuntut keterampilan digital, maka sekolah harus menjadi tempat pertama yang mempersiapkan siswa untuk tantangan tersebut. Pendidikan harus bergerak mengikuti zaman, bukan berjalan di belakangnya,” tegas Maulani.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
