Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Mei 2024 | 17.12 WIB

Kurikulum Merdeka Selaras dengan Tujuan Wellbeing untuk Siswa dan Guru

Isu wellbeing atau kebahagiaan dalam dunia pendidikan tengah ramai diperbincangkan. Bukan hanya untuk siswa, wellbeing ini juga dianggap penting bagi guru bahkan warga sekolah secara keseluruhan. - Image

Isu wellbeing atau kebahagiaan dalam dunia pendidikan tengah ramai diperbincangkan. Bukan hanya untuk siswa, wellbeing ini juga dianggap penting bagi guru bahkan warga sekolah secara keseluruhan.

JawaPos.com – Isu wellbeing atau kebahagiaan dalam dunia pendidikan tengah ramai diperbincangkan. Bukan hanya untuk siswa, wellbeing ini juga dianggap penting bagi guru bahkan warga sekolah secara keseluruhan. Hal ini diungkap oleh British School Jakarta (BSJ) Head of Wellbeing Andrea Downie dalam acara BSJ’s Wellbeing Symposium 2024, di Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (27/5). Menurutnya, wellbeing erat kaitannya dengan konsep pengembangan pendidikan yang holistik.

”Wellbeing adalah kunci dalam menumbuhkan perkembangan pribadi, adaptabilitas, ketangguhan, dan kebahagiaan,” ujar Andrea.
Wellbeing dilakukan untuk mempelajari strategi berdasarkan data guna menumbuhkan lingkungan yang ideal, budaya-budaya yang inklusif, dan pengalaman belajar yang terarah.

Konsep ini, menurut Kepala Sekolah BSJ David Bucther telah dijalankan oleh pihaknya sejak beberapa waktu lalu. BSJ secara kolaboratif bersama dengan murid, staf, dan pemangku kepentingan membentuk definisi kolektif atas wellbeing itu sendiri.

”Bagaimana sebenarnya kita bisa melihat kerangka pembelajaran bersama. Sehingga, terbentuklah lingkungan yang mendukung penuh wellbeing untuk semua pihak,” jelasnya.

Dengan begitu, semua pihak bisa meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan diri. Terutama untuk siswa yang nantinya akan menghadapi kehidupan di luar sekolah.

”Dan kami rasa, wellbeing ini tidak hanya untuk lingkungan sekolah kami saja. Tapi juga untuk disebarkan ke lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikbudristek Irsyad Zamjani menyebut, bahwa Kurikulum Merdeka yang baru saja diluncurkan secara resmi oleh Mendikbudristek sejatinya berkaitan erat dengan wellbeing ini. Pasalnya, guru dan siswa diberi kebebasan penuh dalam proses pembelajaran dalam kurikulum ini.

Awalnya, kata dia, guru dibebani tugas yang berat terutama dalam menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tak jarang mereka sampai stress. Begitu pula siswa, dituntut untuk mempelajari semua materi. Padahal, tidak semua siswa menyukai ataupun menguasai materi-materi tersebut.

”Karenanya, dalam Kurikulum Merdeka yang pertama adalah menekankan tentang penyederhanaan,” ungkapnya. Guru tak lagi perlu mengejar pemenuhan kurikulum. Pembelajaran sepenuhnya berorientasi pada siswa. Ada fleksibilitas yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Sehingga, beban guru dan siswa pun tak lagi sebesar sebelumnya.

”Jadi siswa bisa datang ke sekolah dan menikmati pembelajarannya,” ungkapnya.

Selain itu, pembelajaran juga lebih diperbanyak berbasis projek. Di sana, siswa diharapkan bisa bekerja sama, berkolaborasi, dan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah atau tugasnya. Siswa pun dapat belajar lebih di lapangan, tak hanya terpaku pada buku pelajaran.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore