Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Mei 2024 | 00.04 WIB

Institusi Pendidikan Berupaya Tanamkan Integritas kepada Anak Didik dengann Berani Jujur dan Pantang Curangi Aturan

GENERASI PENERUS BANGSA: Pelajar SD dan SMP berpartisipasi dalam seremoni peringatan Hardiknas di Kemendikbudristek pada Kamis (2/5). - Image

GENERASI PENERUS BANGSA: Pelajar SD dan SMP berpartisipasi dalam seremoni peringatan Hardiknas di Kemendikbudristek pada Kamis (2/5).

Survei penilaian integritas (SPI) pendidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuahkan hasil yang tidak menggembirakan. Dari skala 1 sampai 5, skornya hanya 2 atau masuk kategori korektif. Sebenarnya seperti apakah upaya sekolah dan perguruan tinggi menanamkan nilai-nilai antikorupsi terhadap anak-anak didik?

SD Muhammadiyah 2 Peneleh, Surabaya, sudah menyemai nilai integritas dan karakter baik kepada para siswanya. ”Branding kami sekolah adab,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 2 Peneleh Choirotur Rosyidah kepada Jawa Pos Jumat (3/5).

Sekolah, menurut dia, punya program Pendekar Muda. Itulah akronim dari pendidikan karakter SD Muhammadiyah 2. Ada sembilan nilai penting di sana. Salah satunya adalah kejujuran. Siswa diajarkan nilai tauhid bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Jadi, siswa tidak boleh berbohong karena Tuhan pasti akan mengetahuinya.

Berkata jujur lebih baik walaupun menyakitkan. Praktik paling umum adalah ketika siswa datang terlambat. Ketika ditanya alasannya, siswa harus berkata jujur. Tidak ada toleransi bagi siswa yang pandai membuat alasan atau mengarang cerita tentang keterlambatannya. Bahkan, ketika datang terlambat karena bangun kesiangan, siswa harus berani menyampaikannya. Tidak perlu malu atau takut.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kejujuran mereka, sekolah tidak memberikan hukuman. Siswa hanya diberi teguran dan harus bersedia memperbaiki diri. Dari hal-hal sederhana seperti itu, Rosyidah dan guru-guru membangun karakter jujur para siswa.

Selain kejujuran, para siswa diajarkan untuk tidak merundung siswa lain. Nilai-nilai utama sebagai sekolah adab selalu ditanamkan dalam diri para siswa. Perempuan asal Lamongan itu mengungkapkan bahwa sekolah memberikan sertifikat kepada para siswa yang sudah melakukan kebaikan. Setiap bulan mereka dipilih berdasar kategori. Salah satunya adalah kategori disiplin waktu.

AMBIL BAGIAN: Kelompok guru dan mahasiswa antusias mengikuti peringatan Hardiknas pada Kamis (2/5).

Untuk memperdalam penanaman karakter terhadap siswa, para guru pun dituntut mampu memberikan teladan baik. Itu berlaku dari sisi kejujuran maupun kedisiplinan. Teladan lewat perilaku biasanya lebih mudah diserap para siswa.

Cerita lain tentang integritas datang dari SMAN 1 Mojosari, Mojokerto. Dalam rangka menanamkan karakter baik, sekolah membuka kantin kejujuran. Lewat kantin kejujuran, para siswa bisa langsung mempraktikkan karakter baik mereka. Itulah upaya nyata selain tentunya ada penyemaian nilai-nilai integritas yang disampaikan di kelas.

”Selama ini guru berusaha mencetak anak-anak yang integritasnya tinggi. Sayangnya, format yang ditanamkan sering kali kurang memberikan hasil yang cukup,” jelas Sam’un Hadi dari tim penasihat kesiswaan SMAN 1 Mojosari kemarin (4/5).

Di tingkat SMA, lanjut dia, karakter siswa sebenarnya sudah terbentuk. Karena itu, nilai-nilai integritas memang sebaiknya disemai sejak dini. ”Rasa memiliki, jujur, integritas, itu harusnya ditanamkan sejak kecil. Pendidikan formal penting, tapi tentu pendidikan di keluarga itu sangat penting,” terangnya.

Di tingkat perguruan tinggi, upaya menegakkan nilai-nilai integritas juga tetap dilakukan. Misalnya, di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Rektor UMJ Ma’mun Murod menyatakan bahwa nilai-nilai integritas disisipkan dalam setiap program studi (prodi). ”Sehingga mahasiswa mengetahui dan mendukung upaya pemberantasan korupsi,” terangnya pada Jumat (3/5).

Pihaknya juga menerapkan nilai integritas di organisasi intrakampus. Salah satunya, badan eksekutif mahasiswa (BEM). Saat mengajukan anggaran, mereka juga harus menyertakan program atau proyek yang akan digarap. Selain itu, mereka harus menyerahkan laporan keuangan dari program sebelumnya.

Demikian pula saat pemilihan ketua BEM. Mahasiswa diimbau untuk tidak membuat aturan yang koruptif. Misalnya, aturan yang menutup peluang calon lain untuk maju atau menguntungkan calon tertentu.

”Di tataran kampus juga kami praktikkan nilai integritas. Misalnya, pengadaan barang dan jasa. Sistemnya sudah terpusat. Jadi, tidak bisa sembarangan,” tegasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore