
SERU BERMAIN: Sejumlah siswa SDN Ketabang 1 Surabaya kompak memainkan bola bersama rekanrekannya sebelum memasuki ruang kelas pada hari pertama masuk sekolah kemarin (18/7). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pembelajaran pascapandemi Covid-19 mulai pulih. Itu tergambar dalam rapor pendidikan 2023 yang dirilis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Banyak capaian baik, tapi ada pula nilai merah yang harus diwaspadai.
Sebagaimana diketahui, ada sebelas indikator penilaian dalam rapor pendidikan 2023. Di antaranya, kemampuan literasi murid, kemampuan numerasi murid, karakter murid, iklim keamanan sekolah, dan iklim inklusivitas sekolah.
Kemudian, iklim kebinekaan sekolah, kualitas pembelajaran, penyerapan lulusan SMK, kemitraan dan keselarasan SMK dengan dunia kerja, persentase PAUD terakreditasi minimal B, dan angka partisipasi sekolah. Semua data yang diambil merupakan cerminan dari wajah pendidikan pada 2022.
Tahun ini hasil rapor untuk kemampuan numerasi murid cukup menggembirakan. Semua jenjang dari SD/MI/sederajat hingga SMA/SMK/MA/sederajat mengalami kenaikan. Begitu pula nilai kualitas pembelajaran. Namun, ada pula nilai yang mengalami penurunan. Misalnya, kemampuan literasi murid untuk jenjang SMA/SMK/MA. Juga pada iklim keamanan sekolah (lihat grafis).
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo mengungkapkan, hasil asesmen nasional (AN) yang ditampilkan dalam rapor pendidikan Indonesia menunjukkan mulai ada pemulihan pembelajaran pascapandemi. Pada 2022, jumlah murid SD, SMP, dan SMA/SMK yang memenuhi kompetensi minimum dalam numerasi meningkat jika dibandingkan dengan 2021. ”Untuk literasi, juga terjadi peningkatan di jenjang SD dan SMP,” ujarnya kemarin (28/9).
Menurut dia, peningkatan signifikan itu menunjukkan dampak awal dari program-program Merdeka Belajar yang sementara ini memang lebih banyak ditujukan ke jenjang SD dan SMP/sederajat. Pendampingan melalui Kampus Mengajar, misalnya, menyasar SD dan SMP yang paling rendah skor literasi dan numerasinya. Program buku bacaan bermutu juga menyasar SD yang paling rendah skor literasi dan numerasinya.
Dia mengakui masih ada pekerjaan rumah (PR), terutama di jenjang SMA/SMK lantaran nilai literasinya yang turun. ”Sebenarnya juga (PR) untuk semua jenjang agar kualitas pendidikan kita bukan hanya pulih seperti sebelum pandemi, tapi justru lebih baik dibanding sebelumnya,” sambungnya.
Perbaikan kualitas itu, lanjut dia, tengah didorong melalui Kurikulum Merdeka dan penyediaan berbagai perangkat yang membantu guru menerapkan kurikulum tersebut dengan baik. Apalagi, hasil studi INOVASI (kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia) yang diluncurkan pada Selasa (26/9) menunjukkan bahwa karakteristik Kurikulum Merdeka seperti fleksibilitas dan fokusnya pada keterampilan dasar adalah faktor kunci dalam pemulihan pembelajaran.
”Hasil studi itu menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan kurikulum yang fleksibel dan berfokus pada literasi-numerasi mengalami pemulihan pembelajaran yang dua kali lebih cepat dibanding sekolah yang masih menerapkan Kurikulum 2013,” paparnya. (mia/c19/fal)

Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Daftar Pemain Kanada dan Bosnia Herzegovina di Grup B Piala Dunia 2026
