
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono. (Istimewa)
JawaPos.com - Seiring berjalannya waktu, pendidikan vokasi semakin menarik minat anak-anak muda Indonesia. Pemerintah juga melakukan berbagai upaya agar vokasi bisa semakin berkembang. Dengan begitu, mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di industri dalam maupun luar negeri.
Universitas Indonesia (UI) menjadi salah satu pionir pengembangan pendidikan vokasi. Kampus dengan almamater berwarna kuning itu, kini sudah memiliki 15 program studi (prodi) di Program Pendidikan Vokasi. Terdiri dari 9 program Ahli Madya (D3) dan 6 program Sarjana Terapan (D4).
Sebelum bergabung, pendidikan diploma di UI diselenggarakan oleh beberapa fakultas. Lalu sejak 2008, program diploma bergabung ke dalam Program Pendidikan Vokasi. Meski baru berdiri pada tahun 2008, mahasiswa Vokasi UI telah banyak menghasilkan inovasi. Seperti Prodi Administrasi Perpajakan bersama mahasiswanya yang mendirikan Klinik Pajak.
Klinik Pajak ini setiap tahunnya melayani pengisian SPT untuk dosen dan karyawan UI maupun masyarakat umum. Padahal pelayanan ini biasa dilakukan oleh lulusan S1 yang sudah memiliki pengalaman bekerja di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Namun, dapat ditangani oleh mahasiswa Vokasi UI tingkat 2.
"Kita kalau dari komposisi, 30 persen teori, 70 persen praktik. Kita mendesain mahasiswa berbasis empiris, mengenali dunia kerja. Oleh karena itu, kita membuat program yang lebih banyak berinteraksi dengan dunia kerja," kata Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono saat berbincang dengan JawaPos.com
Vokasi UI juga memiliki 3 teaching factory (TEFA) yang sudah berjalan dan 6 TEFA lainnya yang sedang dalam proses. TEFA yang sudah berjalan yaitu VWC, VCOOP, dan Klinik Pajak. Sarana ini dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengasah keterampilan kerja. Tak hanya menjadi tempat magang mahasiswa, TEFA tersebut juga mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat umum untuk berbagai kebutuhan.
Padang memastikan, kapasitas mahasiswa Vokasi UI sudah teruji. Bahkan bisa bersaing di dunia industri dalam maupun luar negeri. Sejak tahun lalu, mahasiswa Vokasi UI juga banyak yang telah dikirim ke luar negeri seperti Inggris, Skotlandia, Hungaria, Jerman, Australia, Korea Selatan, dan Taiwan melalui program Indonesian International Student Mobility Awards Edisi Vokasi (IISMAeVO) Kemendikbudristek. Vokasi UI juga rutin mengikuti event pengembangan keahlian siswa lainnya.
Salah satu mahasiswa yang menjalani magang di negara Inggris, mampu memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Belum lagi mahasiswa yang direkrut sebelum lulus oleh berbagai perusahaan dan jumlahnya sangat banyak.
"Kita bicara (lulusan) siap pakai, mampu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat," imbuhnya.
Vokasi UI juga menjadi satu-satunya kampus yang menerapkan sistem pada saat lulus, mahasiswanya telah dibekali dengan sertifikat kompetensi, tidak hanya ijazah. Sertifikat kompetensi ini melambangkan kemampuan lulusan tersebut di dunia industri, sedangkan ijazah adalah pengakuan secara intelektual.
"Sertifikasi sudah terkandung di dalam kurikulum dari tingkat 1 sampai lulus, makanya sebagian besar dosen kita merupakan asesor juga. Dosen kita punya degree, kita punya juga asesor, sudah embedded. Mulai awal-awal kita cari bentuk, sudah lulus sudah sertifikasi," ungkap Padang.
Lebih lanjut, Padang menuturkan, dalam merancang kurikulum, Vokasi UI mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Vokasi UI tidak hanya mengejar kemampuan intelektual, melainkan kompetensi keahlian dunia industri juga sangat dikedepankan.
Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Padang Wicaksono. (istimewa)
Pengembangan kurikulum pun selalu melibatkan pihak lain. Termasuk dunia industri. Langkah ini dilakukan agar terbentuk keselarasan antara materi pembelajaran dengan kebutuhan industri.
Dengan sistem seperti ini, membuat mahasiswa Vokasi UI bisa laris menjadi buruan perusahaan besar. Lulusannya bahkan diklaim tersalurkan 100 persen ke perusahaan-perusahaan di Jabodetabek maupun luar negeri. "Masa tunggu kita 0 bulan, ya (persentasenya) 100 persen," ujar Padang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
