Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Juli 2020 | 08.06 WIB

Soal Asesmen, Kemendikbud Ibaratkan Murid Seperti Pemain Sepak Bola

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meminta sekolah dan guru untuk melakukan asesmen atau penilaian kepada para anak didik ketika masuk dalam proses pembelajaran di tahun ajaran 2020/2021. Hal itu dilakukan untuk menilai kemampuan para murid pascabelajar dari rumah.

Pasalnya, dalam mengikuti pembelajaran daring, ada yang memiliki fasilitas dan tidak. Itu pun membuat adanya perbedaan kemampuan pemahaman murid. Asesmen yang dilakukan adalah dengan mengetes pemahaman kurikulum di tingkat sebelumnya.

"Asesmen apa yang bisa dilakukan, menurut saya misalnya dia guru kelas 4, dia mulai ajaran baru, ada 30 orang, tes aja dengan asesmen (kurikulum) kelas 3, apa muridnya paham dengan (kompetensi) yang diharapkan," ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Iwan Syahril dalam acara webinar, Senin (6/7).

Dia pun mendefinisikan sekolah seperti sebuah klub sepak bola profesional. Sedangkan, para murid layaknya seorang pemain sepak bola.

Setiap pemain setelah melewati liburan musim panas dan akan memulai sebuah kompetisi, tentunya perlu melakukan asesmen terlebih dahulu oleh klub. Setelah itu, diberikan porsi latihan apa yang cocok kepada para pemain untuk meningkatkan performanya kembali.

Sama seperti guru yang melakukan asesmen terhadap para murid sebelum aktivitas kurikulum pembelajaran dilakukan.

"Itu sesudah liburan musim panas kan biasanya kondisinya tidak fit lagi dan ada asesmen, dilihat mana yqng staminanya melemah, lari kurang kenceng, tekniknya kurang baik dan itu diberi latihan, sama seperti belajar, dalam konteks mengajar asesmen ini kita lakukan setiap saat, jadi ini kurangnya di mana dan disusun startegi sesuai kebutuhan murid dan minat murid," jelas dia.

Nantinya, para guru yang akan bertugas untuk mengklasifikasikan para murid akan mendapatkan pembelajaran seperti apa. Sebab, jika di samakan, tidak baik untuk proses pembelajaran ke depannya.

"Kalau ada bencana seperti ini, harus ada asesmen, jangan langsung diberikan materi kurikulum seperti levelnya pada saat itu. Jadi kalau kelas 4, jangan langsung dikasih materi kelas 4, lakukan asesmen dulu, kalau kita paksakan itu di level berikutnya akan semakin parah dan tidak bisa menyerap sesuai ekspektasi di level berikutnya, fondasi itu harus betul-betul kita kuatkan," tegas Iwan.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=wih5C1rWmws

https://www.youtube.com/watch?v=McChI2VDFZk

https://www.youtube.com/watch?v=LCpXUPiGySQ

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore