
Ilustrasi kekerasa anak di sekolah.
JawaPos.com - Adanya kasus kekerasan anak di sekolah menimbulkan kekhawatiran. Padahal, sekolah harusnya bisa jadi tempat yang aman bagi anak untuk mengembangkan diri untuk membentuk karakter. Jika sudah begini, siapa yang harus bertanggung jawab?
Pemerhati dan Pakar Pendidikan Muhammad Agus Syafii mengaku prihatin atas kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak kepada teman sebayanya di sekolah. Salah satunya kejadian yang baru saja terjadi pada akhir Juli 2018 lalu, yakni kasus kekerasan anak yang berujung kematian siswa Sekolah Dasar di Garut.
"Tentu saat anak dan anak berkelahi hingga menyebabkan kematian ini menjadi sebuah pukulan besar bagi dunia pendidikan," kata pria yang merupakan Pendiri Rumah Amalia sebuah tempat belajar anak yatim piatu dan duafa kepada JawaPos.com, Jumat (3/8).
Dia menjelaskan, tindakan kekerasan anak hingga berujung kematian tersebut adalah sebuah kegagalan di sekolah. Menurutnya, sekolah seharusnya bisa menjadi benteng dari anak-anak didiknya.
"Sekolah harusnya adalah benteng terakhir kita untuk memiliki akal sehat. Kalau mereka (anak) punya masalah, dan tidak memiliki akal sehat, maka mereka akan menyelesaikannya dengan kekerasan," paparnya.
Imbauan itu selalu disampaikan kepada para siswa dan orang tua terutama dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) di Rumah Amalia. Menurutnya saat terjadi kasus kekerasan, tak bisa sepenuhnya disalahkan kepada anak.
"Kekerasan yang terjadi pada dua anak sekolah sebenarnya tidak bisa disalahkan kepada anak-anak. Justru, anak-anak menjadi salah satu korban. Mengapa? Karena selama ini, anak atau murid hanya dijadikan objek penerima pembelajaran dari guru," kata Agus.
Sekolah yang sukses, menurutnya, adalah sekolah yang dapat mencetak anak-anak bahagia bukan hanya dengan mengukur prestasi akademik. Terlebih, banyak sekali sekolah yang mengutamakan mutu namun membanderol biaya tinggi.
"Sekolah yang bermutu tidak selamanya harus mahal. Tolak ukur sekolah sukses adalah menghasilkan anak yang bahagia," tegasnya.
Sebelumnya seorang siswa menjadi korban dalam kasus penikaman seorang bocah SDN 1 Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, pada akhir Juli 2018 lalu. Korban tewas oleh teman sekelasnya akibat benda tajam.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
