Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Maret 2018 | 05.48 WIB

Malaysia Mulai Internasionalisasi Bahaya Melayu ke Indonesia

Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peran Strategis Bahasa Indonesia dan Genetika dalam Menjaga Keutuhan NKRI, di kantor Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jakarta, Rabu (21/3). - Image

Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peran Strategis Bahasa Indonesia dan Genetika dalam Menjaga Keutuhan NKRI, di kantor Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jakarta, Rabu (21/3).

JawaPos.com - Ahli Bahasa Universitas Mataram, Prof Dr Mahsun menilai Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa perlu terus dirawat. Melalui pelestarian bahasa agar tidak terdegradasi oleh bahasa asing.


Pentingnya peran bahasa ini ditegaskan Mahsun dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema "Peran Strategis Bahasa Indonesia dan Genetika dalam Menjaga Keutuhan NKRI", di kantor Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jakarta, Rabu (21/3).


Mahsun mencontohkan salah satu yang sedang massif dan perlu diwaspadai adalah degradasi Bahasa Melayu oleh Malaysia.


Malaysia mendorong internasionalisasi bahasa melayu ke Indonesia. Mereka terus berusaha agar bahasa melayu berada diatas bahasa Indonesia.


"Bahasa Melayu Malaysia, dalam Undang-Undang mereka jelas dipakai sebagai bahasa nasional. Tetapi dalam pemakaian ternyata mereka tidak dominan. Mereka menggandeng Indonesia memperkuat agar Melayu menjadi bahasa internasional sehingga nantinya warga Malaysia akan nekad belajar lagi bahasa itu," terang Mahsun.


Hal ini, lanjut dia, Bahasa Melayu adalah nama lain dari Bahasa Indonesia. Padahal sudah jelas sekali beda, mulai dialeknya, sampai ke kaidah-kaidah bahasa lainnya.


Begitupun secara hirarki bahasa, Bahasa Melayu adalah bahasa daerah yang posisinya berada dibawah bahasa Indonesia.


"Selain itu, banyak juga pandangan salah dari masyarakat yang cenderung menganggap semua budaya dari luar lebih baik. Termasuk bahasa," ungkap penulis buku Tanah Air Bahasa Indonesia ini.


Hal ini terlihat dalam kasus Paulinah, warga Indonesia yang menuntut ilmu di luar negeri. Setelah pulang dia menikah dengan orang Indonesia.


Anaknya besar di Indonesia, tapi banyak diajarkan Bahasa Inggris dan tidak bisa berbahasa Indonesia.


"Bayangkan kalau semua anak Indonesia seperti itu, bagus dalam berbahasa Inggris dan bagus incomenya (keuangan). Nanti semua generasi muda nanti anak-anaknya diajari bahasa pertamanya bahasa Inggris, lama kelamaan bahasa Indonesia yang merupakan roh bangsa hilang," ucapnya.


"Kalau sudah hilang, Indonesia akan kehilangan jiwanya, karena bahasa mencerminkan cara berpikir kita," tambahnya.


Hal yang sama juga diutarakan Ketua Umum DPP LDII, Abdullah Syam. Dia menilai bahasa memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan NKRI.


Sehingga sangat perlu dilakukan penyamaan persepsi terkait hal tersebut.


"Ternyata pendekatan bahasa dan pendekatan genetik yang membuat kita kuat. Sebagai salah satu wujud dari empat konsesus bangsa, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI," ujar dia.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore