
KOKI CILIK: Wildan Farzana (tiga dari kanan) memandu kelompoknya memasak chicken katsu.
Tidak perlu melarang anak-anak bermain dengan peralatan dapur. Di SD Muhammadiyah 20 Surabaya, siswa kelas I dan II diajari memasak. Layaknya orang dewasa, mereka juga menggunakan kompor dan minyak. Namun, tentu saja tetap diawasi pembina.
AROMA nikmat masakan tercium dari salah satu ruangan di sudut sekolah. Dari baunya, bisa diketahui bahwa itu berasal dari bahan makanan yang digoreng. Siang itu sedang ada kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) cooking class di ruang kelas I sekolah tersebut.
Di samping penggorengan, ada chef cilik yang memakai topi dari kertas biru. Tangannya lihai membolak-balik makanan dengan spatula. Hawa panas dari kompor dan minyak sama sekali tak membuatnya takut. Dengan santai, dia menggoreng enam potong sosis ke dalam wajan panas itu. ’’Aku memang suka masak,’’ ujar Wildan Farzana.
Hari itu Wildan kebagian jatah menjadi leader kelompok. Mereka mempraktikkan masak menu chicken katsu. Selain itu, mereka membuat garnish dari sayuran dan bahan makanan lainnya.
Bocah laki-laki kelas II itu bertugas menggoreng. Empat temannya yang lain menyiapkan garnish-nya. Ada yang mengiris tipis telur dadar, memotong wortel, mencuci sayuran, dan mengupas telur puyuh. Mereka tampak berfokus pada tugas masing-masing. Sesekali juga disertai canda tawa.
Meski masih sangat belia, anak-anak tersebut sudah bisa bertanggung jawab atas pekerjaannya. Canda tawa yang dilontarkan selama kegiatan berlangsung juga terkontrol. Mereka sudah tahu cara menjaga diri sendiri dan orang lain dari bahaya yang mungkin timbul dalam proses memasak.
Menurut Wildan, mereka sudah terbiasa dengan kegiatan memasak. Setiap Selasa mereka mengikuti ekskul itu yang ada sejak lima tahun lalu. Wildan ikut ekskul tersebut sejak di bangku kelas I.
Lewat ekskul memasak, Wildan mendapat banyak manfaat. Dia bercerita, dirinya sering membantu ibu memasak di rumah. Dia bahkan sudah bisa memasak sendiri meski sederhana. ’’Baru bisa bikin telur ceplok,’’ ungkap bocah yang bercita-cita menjadi chef itu.
Sekitar sejam, proses memasak pun rampung. Anak-anak lantas mengerjakan tahap selanjutnya. Yakni, menghias makanan di piring masing-masing. Mereka bebas berkreasi sesuai dengan petunjuk menu sehat. Ada karbohidrat, protein, dan vitamin dalam satu porsi.
Ustadah Astri Anggraeny yang sejak awal mengawasi kegiatan para siswa ikut membantu. Pembina ekskul cooking class itu menyiapkan cetakan berbagai bentuk untuk menghias nasi. Ada yang berbentuk bunga, kura-kura, boneka, dan bintang. ’’Hayo, dibagi dengan temannya, ya,’’ ujarnya mengingatkan agar siswa tidak mengambil porsi lebih.
Sementara itu, para siswa lain yang tidak tergabung dalam ekskul cooking class semakin ramai berdatangan ke kelas itu. Mereka tertarik pada bau harum masakan dan tergoda untuk mencicipi. ’’Kalau mulai matang, teman-teman yang lain pasti berdatangan,’’ ujar Ustadah Anggra, sapaan akrab Astri Anggraeny. Anggota ekskul cooking class juga tak berkeberatan berbagi dengan teman-teman yang lain.
Ekskul cooking class dibentuk bukan tanpa alasan. Menurut Anggra, kegiatan itu merupakan salah satu sarana untuk mengasah motorik siswa. Caranya, mengajari mereka memotong, mengupas, mengiris, hingga mengaduk.
Setiap tahun pesertanya beragam. Kadang diajarkan di kelas kecil, kadang juga di kelas besar. Bergantung peminatnya saat itu. ’’Tahun ini kami fokuskan untuk kelas kecil, yakni kelas I dan II SD saja,’’ terangnya.
Pembelajarannya pun beragam. Pada awal tahun pelajaran baru, mereka dikenalkan pada bahan-bahan masakan dan kue. Kemudian, mereka diajari cara melipat tisu dan membuat garnish. Bulan berikutnya baru masuk ke pelajaran memasak yang sesungguhnya.
Selama ini, peralatan praktik yang utama sudah disiapkan sekolah. Misalnya, kompor, wajan, dan panci. Begitu pula bahan-bahan masakan. Siswa tinggal membawa peralatan dan bahan pelengkap.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
