
Ilustrasi siswa mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. (Dokumentasi Jawa Pos)
JawaPos.com– Rencana Kementerian Agama (Kemenag) untuk meliburkan siswa-siswi sekolah selama satu bulan penuh saat Ramadan, menuai perhatian publik hingga menjadi perbincangan hangat belakangan ini.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar pun mengamini bahwa wacana yang bergulir sedang sedang dipertimbangkan. Libur sekolah satu bulan ramadan bisa mendorong siswa untuk memahami esensi bulan suci.
”Ya, sebetulnya sudah (diterapkan), khususnya di pondok pesantren, itu libur. Tetapi sekolah-sekolah yang lain juga masih sedang kita wacanakan. Nanti tunggu penyampaian,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Selasa (31/12).
Menanggapi wacana tersebut, Guru Besar bidang Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair) Prof Tuti Budirahayu mengaku sepakat dengan rencana pemerintah untuk meliburkan aktivitas sekolah selama Ramadan.
”Ini akan memberikan banyak manfaat. Dari sisi penguatan karakter, anak-anak bisa beribadah dengan tenang di rumah atau di masjid. Hal itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi siswa,” ujar Prof Tuti, Rabu (8/1).
Momen ini juga dapat menjadi kesempatan siswa untuk memperkuat jiwa atau rohani, nilai-nilai sosial, serta moral. Tidak hanya itu, bonding atau ikatan antara anak dengan orang tua dan keluarga juga diyakini semakin kuat.
”Saya rasa, jika libur Ramadan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, akan dapat meredam berbagai perilaku negatif yang selama ini dilakukan siswa, seperti kekerasan atau bullying antar teman di sekolah,” imbuh Prof Tuti.
Kendati demikian, kebijakan meliburkan siswa selama bulan puasa juga memberikan dampak buruk dari aspek akademik. Sebab, tidak dipungkiri target pembelajaran siswa akan menjadi terhambat.
Lantas, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu menyarankan institusi pendidikan untuk melakukan penambahan jam belajar, baik itu sebelum atau setelah libur panjang selama satu bulan Ramadan.
”Atau, kegiatan belajar yang seharusnya berlangsung selama Ramadan dapat beralih ke bentuk penugasan. Memungkinkan siswa mengerjakannya di rumah dengan jadwal belajar yang lebih fleksibel,” tukas Prof Tuti.
Terlepas dari pro dan kontra yang ditimbulkan, libur selama satu bulan saat Ramadan bukan hal baru. Kebijakan ini pernah diterapkan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada era akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
