Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Juni 2024 | 16.34 WIB

Viral Siswa Disabilitas Jadi Korban Perundungan, PPDI Sulsel Minta Pendidikan Inklusif Dievaluasi

Ilustrasi perundungan anak. - Image

Ilustrasi perundungan anak.

JawaPos.com–Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi Selatan Faluphy Mahmud minta pihak terkait mengevaluasi sistem pendidikan. Hal itu agar bisa semakin inklusif.

Hal tersebut menanggapi viralnya video dugaan perundungan terhadap siswa penyandang disabilitas di SMPN 4 Makassar.

”Adanya peristiwa ini menjadi dasar bagi kita semua, termasuk Dinas Pendidikan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang lebih inklusif lagi,” ujar Faluphy seperti dilansir dari Antara di Makassar.

Dia menilai kasus tersebut memperlihatkan adanya sistem pendidikan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Termasuk satuan tugas (satgas) anti perundungan di sekolah dalam membina dan mendidik siswa di lembaga pendidikan.

”Kenapa (Satgas) tidak mengetahui dari awal peristiwa ini, justru baru diketahui saat viral di sosial media, lalu ramai-ramai turun. Harusnya sudah terselesaikan di tingkat sekolah, tidak usah melebar ke mana-mana,” tegas Faluphy Mahmud.

PPDI Sulsel mengajak sekolah untuk lebih mengaktifkan pengawasan melalui organisasi intra sekolah. Seperti OSIS, PMR, Pramuka, maupun organisasi internal dan eksternal lainnya.

”Peran organisasi sekolah harus lebih kencang lagi, bagaimana mengedukasi siswa dan para anak didik sebagai agen kesetaraan. Bagaimana mereka mendidik untuk memberi tahu bahwa kita semua ini setara, begitu pun pihak sekolah,” tutur Faluphy Mahmud.

Dia meminta berbagai pihak terkait agar kembali membahas hal-hal teknis berkaitan dengan kejadian itu. Agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

”Persoalan seperti ini akan terus terulang jika kita tidak putus mata rantainya. Kami mengajak pihak sekolah kembali membahas hal-hal teknis dalam membangun sistem pendidikan inklusif atau setara,” harap Faluphy.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddni mengatakan, kasus itu sudah diklarifikasi kepada pihak sekolah, orang tua masing-masing siswa, didampingi pengurus PPID Sulsel, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinsos Makassar, serta kepolisian.

”Sudah kita klarifikasi, pihak sekolah tidak mengetahui kejadian ini, setelah viral baru ketahuan. Setelah diklarifikasi kejadian bulan lalu. Kesimpulannya, bahwa anak ini tidak boleh tidak sekolah, itu komitmen kami. Selanjutnya akan dievaluasi,” ucap Muhyiddni.

Atas kejadian tersebut, karena anak itu memiliki kemampuan dan prestasi luar biasa, selanjutnya dijadikan duta SMPN 4. Selain itu, menyelesaikan persoalan dengan berkoordinasi pihak terkait.

”Kita sama-sama bekerja berkoordinasi dengan DP3A agar anak ini tidak trauma, bisa saja anak ini biasa-biasa saja, tapi karena viral akhirnya trauma. Pihak kepolisian kami juga telah berkoordinasi dengan baik,” tambah Muhyiddni.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore