
Ilustrasi siswa Sekolah Dasar (SD) maju menjelaskan pekerjaannya kepada siswa lainnya. Kurikulum Merdeka jadi alat bantu peserta didik berkembang sesuai dengan fitrah serta potensinya.
JawaPos.com - Hasil pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 baru saja diumumkan. Untuk semua indikator, ranking atau posisi Indonesia mengalami peningkatan. Capaian ini dinilai sebagai keberhasilan penanganan learning loss akibat pandemi Covid-19.
Pengamat pendidikan sekaligus Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Widya Mandala Surabaya Anita Lie mengatakan naiknya posisi Indonesia untuk literasi membaca, matematika, dan sains, pada hasil PISA 2022 merupakan pencapaian yang positif. Kenaikan itu di tengah adanya pandemi yang menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap kegiatan belajar-mengajar secara global.
"Termasuk juga di Indonesia. Namun, Indonesia tetap mampu menjaga kualitas pendidikan," kata Anita dalam keterangannya, Kamis (7/12).
Menurut dia, pencapaian ranking PISA itu cukup bagus. Karena ada learning loss akibat pandemi yang terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara lain.
Dia menjelaskan PISA diselenggarakan setiap tiga tahun sekali oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengukur literasi membaca, matematika pada murid berusia 15 tahun. PISA di Indonesia menggunakan sampel pada 14.340 siswa SMP, SMA, dan SMK di 413 sekolah selama Mei – Juni 2022. Berdasarkan hasil PISA 2022, peringkat Indonesia naik 5 posisi untuk literasi membaca dan matematika. Untuk sains, Indonesia naik 6 posisi dibandingkan hasil PISA 2018.
“Seharusnya survei PISA dilakukan tiga tahun sekali. Sehingga pengambilan datanya semestinya dilakukan dari tahun 2021," katanya.
Akibat pandemi, pengumpulan data dimundurkan menjadi tahun 2022. Anita mengharapkan kedepannya ada kenaikan yang lebih baik lagi. Selama pandemi, Kemendikbudristek meluncurkan empat program kunci untuk meminimalkan learning loss. Keempat program tersebut antara lain akses daring berupa bantuan kuota internet lebih dari 25 juta murid dan 1,7 juta guru. Kemudian peluncuran Platform Merdeka Mengajar. Lalu materi pembelajaran yang dibuat untuk membantu guru dalam menjalankan kegiatan belajar secara daring. Serta implementasi Kurikulum Darurat yang menyederhanakan materi kurikulum agar guru dapat fokus mengajar. Penyederhanaan materi tersebut menjadi salah satu prinsip utama Kemendikbudristek dalam merancang Kurikulum Merdeka.
Anita melanjutkan, keempat program yang dijalankan Kemendikbudristek berimplikasi positif dalam meminimalkan learning loss selama pandemi. Khususnya pemberlakuan Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka telah mendorong peningkatan literasi dan numerasi pasca pandemi sehingga mempengaruhi skor PISA Indonesia. “Cukup berperan dan berkorelasi,” katanya.
Berdasarkan hasil Asesmen Nasional Kemendikbudristek dari 2021 - 2023 menunjukkan bahwa sekolah yang mengimplementasikan Kurikulum Merdeka mengalami pemulihan pembelajaran yang lebih cepat dibandingkan satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum 2013. Sekolah yang menggunakan Kurikulum Merdeka bahkan mengalami peningkatan literasi dan numerasi daripada satuan pendidikan yang menjalankan Kurikulum 2013.
Dengan temuan tersebut, Anita berharap Kurikulum Merdeka dapat diterapkan secara luas oleh seluruh satuan pendidikan untuk menciptakan perbaikan sekaligus peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
“Kita berharap begitu karena kurikulum ini disusun oleh para guru sehingga mereka punya sensor ownership dalam proses pembelajaran. Kurikulum Merdeka ini memang diharapkan bisa untuk memperbaiki (kualitas pendidikan) kedepannya,” terang Anita.
Sementara itu, Direktur OECD Andreas Schleicher, sebelumnya juga mengapresiasi terhadap pencapaian skor PISA Indonesia. Menurut dia, sistem pendidikan Indonesia cukup tangguh dalam menghadapi pandemi. Peserta didik Indonesia secara umum berhasil mempertahankan kualitas hasil pembelajaran dalam nilai PISA mereka. “Kami sampaikan selamat kepada Indonesia yang telah berhasil menjaga kualitas hasil pembelajaran,” ucapnya.
Selain itu, Andreas juga menyoroti tentang para siswa di Indonesia menunjukkan rasa memiliki yang kuat di sekolah. Bahkan, sekitar 87 persen siswa mengatakan bahwa mereka mudah berteman dibandingkan dengan rata-rata 76 persen di negara-negara OECD. Siswa di Indonesia juga mendapatkan dukungan tertinggi dari guru mereka selama pandemi. Keterlibatan orang tua juga telah meningkat selama beberapa tahun terakhir.
"Menariknya bahwa semakin banyak orang tua memulai percakapan dengan sekolah tentang anak-anak mereka,” ujarnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
