Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 Januari 2017, 02.35 WIB

Gelak Tawa Sambut Akting Anak TK

BATU MENANGIS: Darmi yang diperankan Meysa Esperanza Nugraha (tengah), siswa TK Al-Azhar Kelapa Gading, berakting belanja. - Image

BATU MENANGIS: Darmi yang diperankan Meysa Esperanza Nugraha (tengah), siswa TK Al-Azhar Kelapa Gading, berakting belanja.

JawaPos.com Siswa TK Al-Azhar Kelapa Gading menampilkan legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat. Sambil dipandu para guru, mereka berakting di atas panggung atrium Grand City pada Selasa (24/1). Anak-anak TK tersebut berusaha membuat ekspresi senang, marah, hingga menangis. Bukannya terhanyut dalam suasana, para penonton malah tertawa geli dengan tingkah para pemain.


Dikisahkan, di sebuah bukit yang jauh dari kota hiduplah seorang janda miskin, diperankan oleh Fatia Almira Shifa. Janda tersebut mempunyai seorang anak gadis bernama Darmi yang diperankan Meysa Esperanza Nugraha. Darmi adalah anak yang cantik jelita. Sayang, Darmi amat pemalas dan tak pernah membantu ibunya. Kerjanya hanya bersolek setiap hari.


Setiap kali Darmi memaksa ibunya mengabulkan segala permintaannya. Padahal, keadaan ibunya sangat miskin. Sang ibu setiap hari harus membanting tulang demi sesuap nasi.


Suatu hari, Darmi dan ibunya pergi ke pasar. Darmi berdandan dan memakai pakaian bagus. Sementara itu, ibunya berjalan di belakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Setiap ada orang yang bertanya, Darmi tidak mengakui ibunya. ’’Dia bukan ibuku. Mana mungkin aku cantik seperti ini punya ibu jelek,’’ ucap Meysa Esperanza.


Darmi kemudian membeli bedak kepada salah seorang penjual. Penjual tersebut memiliki logat Tionghoa yang kental. Lucunya, ketika membeli bedak, Meysa juga menirukan logat Tionghoa. Penonton geli, guru pembimbing menahan tawa, Meysa terus berakting.


Si ibu akhirnya tak tahan atas ejekan anaknya. ’’Tuhan, anak hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya Tuhan, hukumlah anak durhaka ini!’’ serunya.


Perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Darmi menangis memohon kepada ibunya. Tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuhnya akhirnya berubah menjadi batu.


Operet tersebut melibatkan sekitar 20 pemain yang terdiri atas siswa-siswi TK AL-Azhar Kelapa Gading. Pertunjukan berlangsung sekitar 30 menit. Operet itu merupakan salah satu rangkaian acara Pekan Budaya Kalimantan. ’’Kegiatan ini untuk mengenalkan budaya kepada anak. Setiap tahun kami memiliki tema yang berbeda. Misalnya, pada 2016 mengangkat tentang budaya Sumatera,’’ jelas Kepala Sekolah TK Islam Al-Azhar Dwi Hastuti. Selain pertunjukan operet, terdapat lomba fashion show baju adat, pawai, tari-tarian, atraksi silat, dan permainan tradisional Rangku Alu.


Selain TK Islam Al-Azhar, drama disajikan para siswa kelas II SDIT Al Uswah. Pada Selasa itu para siswa memainkan drama musikal Malin Kundang. Ada juga tokoh bajak laut dalam cerita itu. M. Zaidan Fahril Akmal yang berperan sebagai Malin Kundang tampil atraktif. Pesannya, tidak boleh durhaka kepada orang tua.



Koordinator kelas II SD Al Uswah Diana Agustin mengatakan, drama Malin Kundang itu dikemas dalam pergelaran seni. Acara tersebut merupakan penutup pembelajaran Tema 4 untuk kelas II. Yakni tentang Bhinneka Tunggal Ika. ’’Kalau tidak ditunjukkan secara langsung, siswa bisa jadi kurang mengenal budayanya. Kalau terlibat langsung begini, diharapkan bisa melekat di benak siswa,’’ tuturnya. (esa/puj/c19/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore