Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Februari 2017 | 07.29 WIB

SMK Negeri 5 Surabaya Terapkan Masa Studi Empat Tahun, Magang Lama Soft Skill Terasah

BANYAK PENGALAMAN: Ilham Maulana (kiri) dan Irma Febriyanti, siswa jurusan kimia industri SMKN 5 Surabaya, menjalani uji kompetensi keahlian. - Image

BANYAK PENGALAMAN: Ilham Maulana (kiri) dan Irma Febriyanti, siswa jurusan kimia industri SMKN 5 Surabaya, menjalani uji kompetensi keahlian.

Sebelum bernama SMKN 5 Surabaya, sekolah di kawasan Jalan Prof Dr Moestopo itu bernama STM Pembangunan. Sekolah yang berdiri pada 1975 tersebut sangat kondang. Apalagi, saat itu STM Pembangunan merupakan salah satu proyek perintis pemerintah di bidang pendidikan teknik.



SEJAK awal berdiri, STM Pembangunan menerapkan masa studi empat tahun. Perinciannya, tiga tahun belajar di sekolah dan tahun keempat digunakan untuk magang di industri atau perusahaan. ’’Pemerintah memang ingin mencetak tenaga terampil menengah,’’ ujar Kepala SMKN 5 Rinoto.


Hingga sekarang, masa studi empat tahun itu masih terus berjalan. Rinoto menyebutkan, sekolah dengan masa studi empat tahun dinilai lebih menguntungkan. Sebab, rata-rata magang untuk siswa SMK yang studi tiga tahun adalah 3–6 bulan. Untuk SMK dengan masa studi empat tahun, durasi magang minimal enam bulan. ’’Ini membuat lulusan kami lebih terampil, sesuai harapan pemerintah,’’ tuturnya.


Konsep SMK empat tahun, tampaknya, akan semakin hidup. Apalagi, pemerintah pusat juga tengah menggencarkan revitalisasi SMK. Rinoto menyebut ada tujuh program keahlian di SMKN 5. Semua program keahlian itu berjalan dengan masa studi empat tahun.


Alumnus STM Pembangunan Surabaya tersebut berencana mendirikan jurusan alat berat. Jika tidak ada aral melintang, jurusan itu akan dibuka tahun ini. ’’Semuanya empat tahun. Andaikan tiga tahun, ya satu itu saja yang masih tiga tahun,’’ katanya.


Jurusan alat berat dinilai berpotensi besar. Pembangunan di berbagai wilayah sangat pesat. Pada kondisi tersebut tentu dibutuhkan alat berat. ’’Penyerapannya akan tinggi,’’ ucapnya. Rinoto menargetkan membuka dua kelas. Untuk tahap awal, pihaknya akan membuka satu kelas.


Nilai lebih dari SMK empat tahun, jelas dia, tidak lain menyiapkan anak agar siap kerja. Bukan berarti siswa tidak boleh melanjutkan kuliah. Lulusan SMK sah-sah saja berkuliah. Pilihan lain, jika ingin bekerja, siswa sudah memiliki keterampilan atau soft skill tersendiri.


Rinoto mengatakan, studi empat tahun juga memperpendek mata rantai kemiskinan. Alumnus jadi siap kerja. Terutama bagi siswa dari keluarga tidak mampu. ’’Kalau ingin masuk perguruan tinggi, butuh biaya tambahan. Sehingga kalau kuliah, ya sambil bekerja. Nah, siswa sudah punya bekal itu,’’ ucapnya.


Menurut Rinoto, ada sekitar 10 persen siswanya yang melanjutkan kuliah. Sekitar 60 persen langsung terserap kerja. Selebihnya berusaha secara mandiri. ’’Kalau bisa anak-anak itu memang harus mandiri, berwirausaha,’’ jelasnya.


Di sisi lain, sekolah dengan masa studi empat tahun memiliki kelemahan. Salah satunya, siswa yang ingin kuliah setelah studi tiga tahun tidak bisa langsung. Siswa harus menyelesaikan tahun keempatnya lebih dulu dengan praktik di industri. Selain itu, siswa sedikit tertinggal pada ilmu eksak. Namun, mereka memiliki kelebihan dalam hal praktik.



Sebagai kepala sekolah, Rinoto ingin memperkuat kualitas siswa dan sekolah. Salah satu caranya meningkatkan jumlah kerja sama dengan industri. Sebab, semakin banyak dunia industri yang bekerja sama dengan sekolah, semakin besar peluang siswa untuk terserap di dunia industri. ’’Performance akan kita asah lagi,’’ tegasnya. (puj/c15/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore