Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Juni 2017, 03.18 WIB

Prof Sam Abede Pareno Ingatkan Pentingnya Etika Pers

PRODUKTIF: Prof Sam Abede Pareno di ruang kerja bersama dua buku karyanya. - Image

PRODUKTIF: Prof Sam Abede Pareno di ruang kerja bersama dua buku karyanya.


Kondisi pers saat ini, menurut Prof Dr H Sam Abede Pareno MM MH, sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun 90-an. Kini, pers punya kebebasan seluas-luasnya untuk mendapatkan dan menyajikan berita.





SEJAK Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disahkan, lembaga pers lebih leluasa mengolah dan menerbitkan berita. Namun, kebebasan pers tersebut bukanlah tanpa masalah. Kebebasan yang kebablasan sering membuat insan pers lupa akan perannya. Menjunjung tinggi etika pers.



Kondisi itu diamati Prof Sam Abede Pareno. Sejak reformasi digulirkan, etika pers memang selalu menjadi bahasan yang menarik. ”Etika pers ini menjadi salah satu filter ampuh untuk mengimbangi kebebasan pers yang saat ini terjadi di Indonesia,” terangnya saat ditemui Jawa Pos di ruang dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Rabu (14/6).



Contoh kasus terbaru mengenai pentingnya etika pers dalam penyajian berita tersebut bisa dilihat dari kasus meninggalnya salah seorang artis akibat penyakit kanker serviks. Isu yang dimuat di beberapa media terlihat berlebihan dalam menyampaikan informasi. Tidak cukup pada penyampaian kabar duka, beberapa media malah memberitakan asal-usul munculnya penyakit yang diderita almarhumah.



Kecenderungan media massa yang dimiliki pemimpin partai politik juga memengaruhi isi pemberitaan. ”Umumnya pemberitaan menjadi tendensius,” katanya.



Kurangnya penghargaan pada etika pers itu sebenarnya terjadi karena fungsi media saat ini begitu kompleks. Tidak hanya sebagai penyalur informasi, pers saat ini masuk ranah bisnis. Kepentingan ekonomi, menurut dia, menentukan pilihan berita.



Menghadapinya, sikap insan pers yang berpegang teguh pada fakta dan data menjadi sangat penting untuk terus ditegakkan. Insan pers dan pemilik media harus sadar mengenai perannya sebagai pemberi informasi kepada masyarakat. ”Tentu dengan sikap selalu memperhatikan etika pers,” tegasnya.



Kecintaan pria kelahiran 2 Agutus 1948 pada dunia pers tersebut bukan tanpa alasan. Sam pernah menjadi wartawan selama 25 tahun. Pengalaman seperempat abad mencari fakta di lapangan itu menuntunnya untuk selalu memperhatikan kondisi pers.



Sam mengungkapkan, insan pers harus selalu menjaga kondisi kebebasan yang dilindungi undang-undang tersebut. Sebab, kondisi pers saat ini tetap akan jauh lebih baik daripada zaman ketika dia masih menjadi wartawan.



Salah satu contohnya, sekitar 1974 ketika Sam masih menjadi wartawan di harian Pedoman. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Malapetaka Lima Belas Januari (Malari), koran tempat dia bernaung kurang tepat menulis berita soal tuntutan mahasiswa kepada Presiden Soeharto. ”Waktu itu, koran kami langsung diberedel,” ujarnya.



Selain aktif mengkaji persoalan pers, laki-laki asal Pulau Seram, Provinsi Maluku, tersebut aktif menulis buku. Sudah ada 27 buku yang dia tulis. Tidak hanya soal pers, Sam juga menulis buku dengan topik sastra, budaya, politik, dan sosial. ”Saya sudah menulis tiga novel,” ungkapnya.



Kecintaannya pada dunia menulis itu dilakoninya sejak duduk di bangku sekolah rakyat. ”Agar pemikirannya terdokumentasi dan dibaca banyak orang,” harapnya. (elo/c7/nda)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore