
Bimo Gusti Pangestu (kiri) salah satu mahasiswa UAD Yogyakarta yang menciptakan ELANG bersama dosen pembimbingnya Adhita Sri Prabakusuma.
JawaPos.com - Mencoba mengatasi kesulitan para petani, sejumlah mahasiswa di Universitas Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta mencoba berinovasi melalui ELANG.
ELANG merupakan kepanjangan dari Easy Leaf Analyses Nitrogen. ELANG merupakan alat guna mendeteksi defisiensi nitrogen pada tanaman padi.
Tujuan diciptakannya ELANG yakni guna mendeteksi defisiensi nutrisi nitrogen yang ada pada daun padi. Pendeteksian ini guna mempermudah petani dalam pengendalian pemupukan yang biasanya dilakukan berdasarkan feeling.
Untuk diketahui, ELANG diciptakan oleh tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UAD. Mereka adalah Bintang Akbar Pratama sebagai ketua tim, Bimo Gusti Pangestu, dan Cahya Utama Purwanegara pada akhir 2017 silam kemarin. Tim ini dibimbing oleh Aditha Sri Prabakusuma, dosen Teknik Pangan UAD.
Bimo mengatakan, dana untuk membuat ELANG menghabiskan sekitar Rp 5 juta. Itu belum termasuk risetnya. "Kalau untuk perakitan tidak ada seminggu. Hanya casing-nya saja yang perlu memesan," kata dia, Senin (29/1).
Sementara itu, Adhita Sri Prabakusuma, selaku dosen pembimbing menambahkan, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada para petani terkait penggunaan ELANG dan fungsi dari alat ciptaan mahasiswanya tersebut.
Salah satu caranya yakni dengan mengikuti sejumlah pameran, mulai di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul hingga daerah lainnya. Pihaknya berharap alat tersebut dapat dipergunakan para penyuluh pertanian.
"Kami akan menyampaikannya ke penyuluh. Apapun yang disarankan dari penyuluh ke petani kan biasanya dilakukan," katanya, Senin (29/1).
Namun sebelum disampaikan ke instansi terkait, terlebih dahulu ELANG akan dikembangkan. Tak hanya sebagai pengukur kadar nitrogen, namun ke depan juga sebagai penakar kandungan kalium, fosfor, maupun pH atau keasaman tanah.
Unsur-unsur itu dirasa sangat penting untuk mengendalikan pertanian khususnya padi. Semisal seperti pH ketika efek keasaman tanah meningkat atau berlebihan maka bagian akar dari tanaman bisa membusuk.
Akar tidak bisa menyerap udara dengan baik. Akibatnya tak mampu berkembang, tanaman pun menjadi kerdil dan kering. "Kami masih memerlukan beberapa waktu untuk mengembangkannya," pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
