
Rilis hasil survei Peta Kekuatan Capres-Cawapres Menjelang Pemilu 2019 di Sumatera Utara (Sumut) yang dirilis oleh Indopol, Kamis (29/11) di Medan.
JawaPos.com – Ada hal unik dari hasil survei Peta Kekuatan Capres-Cawapres Menjelang Pemilu 2019 di Sumatera Utara (Sumut) yang dirilis oleh Indopol, Kamis (29/11) di Medan. Fakta yang diperoleh, elektabilitas pasangan calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno lebih tinggi dari pasangan calon Presiden nomor urut 1 Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin di kalangan suku Jawa yang ada di Sumut.
Padahal, Jokowi merupakan tokoh yang berasal dari Solo. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat elektabilitasnya pada komunitas suku Jawa yang ada di Sumut tinggi. "Persentasenya sangat tinggi, elektabilitas Jokowi-Maruf Amin pada suku Jawa hanya tiga puluh delapan koma delapan puluh persen. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno sebesar lima puluh satu koma tujuh belas persen," jelas Direktur Eksekutif Indopol, Ratno Sulistiyanto, Kamis (29/11) di Medan.
Elektabilitas yang rendah pada pemilih dari suku Jawa ini menurut Ratno, merupakan hal yang sangat rawan. Pasalnya, pemilih terbesar di Sumatera Utara adalah pemilih dari Suku Jawa.
Selain suku Jawa, elektabilitas Jokowi-Maruf Amin juga kalah dibanding Prabowo-Sandiaga Uno pada Suku Pakpak. “Dua puluh lima persen berbanding enam persen (selebihnya tidak memilih) dan Mandailing enam belas persen berbanding enam puluh persen (selebihnya tidak memilih),” jelasnya.
Namun, pada beberapa suku lainnya seperti suku Karo, Toba, Simalungun, Angkola, Toba, Nias, dan Suku Tionghoa pasangan Jokowi-Maruf lebih unggul. Yang paling menonjol pada Suku Batak Karo dengan 79.83 persen dukung Jokowi-Maruf sementara yang mendukung Prabowo-Sandi 15.13 persen.
Pada Suku Batak Toba elektabilitas Jokowi-Maruf 83.84 persen sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandi 10.10 persen. Begitu juga dengan Suku Nias, dimana elektabilistas Prabowo-Sandi hanya 10.84 persen, sedangkan Jokowi-Maruf 84.34 persen.
"Pada suku Tionghoa justru sangat telak yakni sembilan pouluh tiga koma tiga persen berbanding nol persen. Dimana enam koma enam puluh tujuh persen tidak memberikan jawaban," pungkasnya.
Menurut Pengamat Politik dari USU, Hendri Sitorus mengatakan, politik identias dan agama masih mewarnai pemilu 2019. Aspek suku Jawa tersebut menurut Hendri sangat menarik. “Dimana etnis Jawa dukung Prabowo. Kita coba melihat ada apa ini. Jokowi dari Solo masarakat Jawa malah pilih Prabowo,” ujarnya.
“Yang perlu diwanti-wanti kedua tim Jokowi kalau mau mendapatkan balik (suara Suku Jawa). Ini kesempatannya, tapi jangan lemah dengan etnis lainnya. Tim prabowo bisa bermain strategi untuk tingkatkan lagi (suara Suku Jawa). Ada waktu lima bulan merubah,” tandasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

4 Keunggulan Introvert yang Kini Justru Diinginkan oleh Banyak Orang Pada Era Modern
Jokowi Dikabarkan Deklarasi jadi Ketum PSI Awal November, KDM Disebut Ikut Pindah Gerbong
4 Faktor yang Membentuk Kepribadian Introvert Menurut Penjelasan Psikologi
5 Kiat Introvert Menjadi Pemimpin Tangguh Tanpa Harus Mengubah Sifat Alami
Kenaikan Target Bansos 2026: Kemensos Wajibkan Registrasi Ulang Wajah
Dari Proyek Televisi ke Liga Champions, Kisah Mirwan Suwarso dan Como 1907
KDM Dikabarkan Bakal Masuk PSI dan Duet dengan Gibran pada Pilpres 2029 Mendatang
Manajer Persipura Pasang Target Tinggi, Enam Poin Jadi Harga Mati di Dua Laga
Prediksi Skor Sevilla vs Osasuna: Los Rojillos Bidik Poin, Rekor Arrasate Jadi Ancaman!
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs PSM Makassar: Juku Eja Paksa Berbagi Poin!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022