
Khofifah Indar Parawansa saat mencermati hasil kerajinan jati di Koperasi Jati Mekar, Ngawi, Senin (26/3)
JawaPos.com -- Kegiatan navigasi progam Nawa Bhakti Satya oleh calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Kabupaten Ngawi terus berlanjut. Kali ini, Cagub dengan nomor urut satu ini mengunjungi sentra pengrajin kayu dan akar jati yang ada dalam naungan Koperasi Jati Mekar di Ngawi, Senin (26/3).
Dari navigasi program yang dilakukan, mantan Menteri Sosial (Mensos) ini menemukan banyak produk karya seni dari pengrajin jati itu dijual tanpa ada merk. Padahal, dari skala pasar, ukiran meja, kursi, hiasan meja dan banyak produk jati dari Ngawi ini sudah masuk ekspor ke banyak negara. Seperti Belanda, Jepang dan negara lain.
"Produk dari Ngawi ini lebih dikenal dari Bali atau Jogja. Karena banyak dipasarkan di sana dan dibranding oleh tradernya, sehingga tidak terungkap bahwa itu produk asli Ngawi," kata Khofifah.
Ketua Umum Muslimat NU ini menyebut pelaku usaha kerajinan jati ini butuh support brand. Sehingga ada nilai tambah yang didapat oleh pengrajin. Selama ini, lanjutnya, pihak trader yang memberikan merk sehingga nilai lebih didapat oleh trader. Sementara untuk menunjang penjualan di loka. Khofifah menyarankan agar diintegrasikan dengan lokasi wisata potensial. Misalanya, wisata Trinil.
"Wisata itu harus diintergrasikan dengan pelaku usaha khas di sana. Sehingga nanti pengrajin di sini bisa menjual dengan brandnya sendiri," tutur perempuan yang berpasangan dengan Cawagub, Emil Elestianto Dardak ini.
Hal penting lainnya, kata Khofifah, yakni terkait permodalan. Dimana, masih banyak pengrajin yang belum bisa memanfaatkan adanya Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 7 persen per tahun. Menurutnya, jika para pengrajin bisa mengakses KUR tersebut, maka dapat meningkatkan produktivitas pengrajin.
"Pihak perbankan butuh turun meninjau usaha usaha yang omsetnya sudah lancar dan butuh suntikan modal murah. Butuh sosialisais turun sampai ke sini. Contohnya adalah KUR dengan bunga murah," pungkasnya.
Sementara itu, para pengrajin yang tergabung dalam Koperasi Mekar Jaya menyambut baik tawaran-tawaran Khofifah. Para pengrajin juga membenarkan, kalau problem utama selama ini terkait brand tau merk.
"Biasanya kami menjual langsung ke tengkulak. Di sana mereka memberikan brand sendiri. Ekspor juga begitu, ini karena kami juga tidak paham bagaimana manageman brand dan kemudahan permodalan juga kami berharap bisa lebih diberikan pada kami," kata Wibianata, Manager Roomanza Furniture Sidowayah yang juga anggota koperasi.
Diakui Wibianata, para pengrajin di Ngawi masih awam Sola branding dan perijinan. Oleh karenanya, kedepan, seluruh anggota koperasi Mekar Jaya mendapatkan pelatihan-pelatihan dari pemerintah. Baik terkait penguatan branding maupun peningkatan SDM.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
