
Ilustrasi orang tua dengan anak remajanya. (Magnific/senivpetro)
JawaPos.com - Pada fase remaja, beberapa anak seringkali menjadi lebih sulit didekati. Banyak dari mereka yang mulai menjaga jarak dengan orang tua karena merasa memiliki privasi yang perlu dilindungi. Sayangnya, banyak orang tua yang memaksa batas itu.
Psikolog Keluarga Pritta Tyas, mengingatkan orang tua seharusnya lebih dulu mengevaluasi diri ketika menghadapi anak remaja yang mulai menutup diri. Menurutnya, membangun kembali hubungan dengan remaja tidak bisa dilakukan dengan cara menginterogasi, melainkan melalui refleksi diri dan kebersamaan yang konsisten.
Pritta menjelaskan, perubahan sikap remaja yang mulai membutuhkan ruang pribadi merupakan bagian dari proses menuju kemandirian. Namun, hubungan yang renggang dengan orang tua bisa semakin memburuk apabila komunikasi dipenuhi penilaian atau aturan yang dibuat secara sepihak.
"Yang pertama, sepertinya kita perlu evaluasi dulu, refleksi dulu. Apa yang saya katakan, apa yang saya lakukan yang ikut menjadi faktor anak saya menutup diri? Apakah misalnya ada perkataan saya yang judgmental, seperti 'Kamu tuh selalu susah deh dibilangin' atau 'Kok gitu aja enggak mau cerita sih'," ujar Pritta kepada wartawan, Rabu (1/7).
Ia menilai, orang tua perlu menyadari bahwa selalu ada kemungkinan sikap mereka ikut memengaruhi keputusan anak untuk tidak lagi terbuka. Selain ucapan yang menghakimi, keputusan yang dibuat sepihak juga dapat membuat remaja merasa tidak dipahami.
Karena itu, Pritta menyarankan orang tua mulai membangun kembali kedekatan melalui aktivitas sederhana yang dilakukan bersama anak. Menurutnya, momen tersebut tidak perlu dijadikan kesempatan untuk menggali semua persoalan yang sedang dihadapi remaja.
"Carilah kegiatan yang bisa dilakukan bersama dengan anak. Dalam melakukan kegiatan itu, enggak perlu digali-gali dulu apa yang sedang terjadi sama anak. Yang penting kita melakukan kegiatan itu sama-sama, misalnya sepedaan, jalan kaki, atau jajan," katanya.
Ia menambahkan, orang tua sebaiknya menikmati waktu bersama tanpa memiliki target tertentu. Ketika anak sudah merasa nyaman dan mulai mengajak orang tua menghabiskan waktu bersama lagi, barulah komunikasi yang lebih mendalam bisa dibangun secara perlahan.
"Enggak usah pakai target, enggak usah pakai KPI dulu. Yang penting dihabiskan waktunya bersama-sama. Baru kalau anaknya sudah nyaman, pelan-pelan mulai ajak ngobrol tentang apa yang sedang dia sukai," tutur Pritta.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Prediksi Skor Lecce vs Roma di Liga Italia: Misi I Giallorossi Curi 3 Poin di Stadio Via del Mare!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Celta Vigo vs Athletic Bilbao: Masih Tumpul, Los Leones Terancam Gagal Menang Lagi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
5 Arti Burung Perkutut Bunyi di Malam Hari, Mitos atau Pertanda Gaib? Simak Maknanya Berikut
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
Pemerintah Tutup Permanen 455 SPPG Karena Tak Penuhi SLHS, Ini Data Rinciannya
