
Ilustrasi- Mengasuh anak dengan baik (jcomp-freepik)
JawaPos.com - Banyak orang tua tanpa sadar masih terjebak pada mitos seputar perbedaan anak laki-laki dan perempuan. Padahal, kemampuan anak tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh pola asuh dan stimulasi yang diberikan sejak dini.
Cara orang tua bersikap, berbicara, hingga memberi dorongan ternyata punya dampak besar terhadap rasa percaya diri serta perkembangan kecerdasan anak. Jika ingin anak tumbuh cerdas, berani, dan penuh empati, orang tua perlu menghindari asumsi keliru yang diwariskan turun-temurun.
Ada 6 hal penting yang biasanya dilakukan oleh orang tua dengan keterampilan pengasuhan yang baik untuk memastikan anak-anak mereka merasa dihargai, mampu, dan berani mencoba hal baru seperti dirangkum dari laman Your Tango!
Orang tua sering mengira anak laki-laki lebih lemah dalam kemampuan verbal, sementara anak perempuan dianggap lebih cocok di bidang komunikasi. Padahal, penelitian membuktikan perbedaan itu sangat kecil bahkan tidak signifikan.
Anak laki-laki bisa sama baiknya dalam membaca dan menulis jika sejak dini didorong untuk berlatih dan diberi ekspektasi yang positif.
Kecemasan guru, terutama terkait pelajaran matematika, bisa menular kepada anak, khususnya anak perempuan. Namun, pengaruh ini bisa diminimalisir jika orang tua menanamkan keyakinan sejak dini bahwa anak perempuan mampu menguasai matematika dan sains. Dengan begitu, mereka tidak mudah terjebak dalam stereotip.
Perkembangan bahasa anak sangat dipengaruhi interaksi dengan orang tua. Sayangnya, banyak orang tua lebih sering berbicara penuh emosi dan ekspresi kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki. Agar anak laki-laki juga kaya kosakata, orang tua perlu membiasakan tutur kata penuh ekspresi kepada mereka sejak dini.
Jangan menunggu sampai anak perempuan memasuki sekolah menengah baru meyakinkan mereka bahwa sains dan matematika juga bisa dikuasai oleh perempuan.
Sejak kecil, orang tua bisa mendorong minat dengan mainan edukatif seperti balok atau set konstruksi. Dengan stimulasi positif, anak-anak lebih percaya diri menghadapi tantangan.
Orang tua kerap tanpa sadar meremehkan kemampuan fisik anak perempuan. Padahal, penelitian menunjukkan bayi perempuan bisa sama beraninya dengan bayi laki-laki dalam menghadapi tantangan. Memberi kesempatan anak untuk mengambil risiko yang wajar justru membangun rasa percaya diri dan kemandirian mereka.
Anak laki-laki sama pedulinya dengan anak perempuan, hanya saja sering terhambat stereotip maskulinitas. Dengan memberi pujian dan dorongan ketika mereka bersikap penuh kasih sayang, orang tua bisa membantu anak laki-laki tumbuh dengan empati yang tinggi, sama seperti anak perempuan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
