
7 Perilaku Orang Tua yang Mendidik Anak Nakal dan Pemberontak, Menurut Psikologi (freepik)
JawaPos.com - Orang tua kerap kewalahan saat menghadapi anak yang suka menolak, membantah, atau tidak patuh. Tak jarang, muncul label "nakal" yang dilontarkan sebagai bentuk kekesalan. Padahal, di balik sikap yang terlihat membangkang atau agresif, bisa jadi ada masalah emosional, tekanan sosial, atau kebutuhan khusus yang belum tertangani.
Menurut psikolog Amalina Salsabil, secara ilmiah tidak ada istilah anak nakal. Daripada melabel anak dengan kata "nakal", akan jauh lebih konstruktif bila orang tua menyebut perilaku spesifik yang ditunjukkan anak.
Misalnya, anak menolak ketika disuruh makan, atau membantah saat diajak belajar. Dengan begitu, pendekatannya bisa lebih tepat sasaran.
"Nakal itu terlalu umum dan maknanya sangat subjektif. Nakalnya versi Ibu A bisa beda dengan versi Ibu B. Kalau memang anaknya menolak, bilang saja anak menunjukkan perilaku menolak, bukan langsung divonis nakal," ujar Amalina Salsabil MPsi Psikolog.
Perilaku menolak, memberontak, atau tidak patuh pada anak, bisa jadi merupakan bagian dari fase perkembangan. Terutama pada anak usia dini yang sedang belajar memahami bahwa mereka punya keinginan dan pendapat sendiri.
"Kalau anak umur dua tahunan bilang 'nggak' terus, itu karena kemampuan berpikir dan emosinya sedang berkembang. Mereka sedang mencoba mengenali dunia dan dirinya," jelas psikolog klinis anak dan remaja itu.
Pada fase ini, reaksi anak lebih didominasi oleh emosi daripada logika. Bahkan ketika anak usia sekolah menunjukkan perilaku menantang, Amalina menekankan pentingnya menggali alasan di baliknya.
"Mungkin dia tidak suka pelajarannya, tidak mengerti materi, atau hanya sekadar kelelahan setelah sekolah seharian," ucapnya.
Alih-alih langsung memarahi, orang tua disarankan untuk terlebih dulu menenangkan diri. "Ketika anak bilang 'nggak mau makan', misalnya, coba cari pendekatan lain. Mungkin dia ingin makan sendiri, atau memang belum lapar. Orang tua harus lebih fleksibel," sarannya.
Respons emosional orang tua yang meledak-ledak justru bisa memperburuk situasi. Amalina menekankan pentingnya kepekaan dan ketenangan. "Anak itu butuh didengarkan dulu. Kalau orang tua langsung emosi, ya pasti jadi makin kacau," kata dia.
Mengenai penggunaan hukuman sebagai alat disiplin, dia menyebut itu bukan metode yang efektif. Terlebih pada anak remaja yang sedang mencari jati diri dan ingin diakui sebagai individu mandiri. Cara pendekatan yang terlalu mengontrol justru bisa menjauhkan hubungan emosional anak dan orang tua.
Namun, bukan berarti orang tua tidak boleh menegur anak. Saat anak berulah di tempat umum, orang tua tetap bisa menegur, asalkan dilakukan dengan bijak.
"Tegurlah di ruang tertutup, bukan di depan umum. Supaya anak tidak merasa dipermalukan. Itu penting untuk menjaga harga diri anak," pungkas Amalina.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
