Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 April 2025 | 23.19 WIB

5 Sikap Orang yang Terlalu Banyak Dipuji di Masa Kecil hingga Sering Mengutamakan Validasi

Ilustrasi orang yang sering dipuji saat waktu kecil. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang sering dipuji saat waktu kecil. (Freepik)

JawaPos.com - Jika seseorang yang terus-menerus dihujani pujian saat kecil, kemungkinan besar orang tersebut akan tumbuh dengan sikap-sikap tertentu.

Namun, hal itu tidak selalu mudah. ​​Pengalaman masa kecil membentuk perilaku dan kepribadian kita dalam berbagai cara yang rumit. Mereka yang sering dipuji semasa kecil sering kali memiliki sifat-sifat tertentu saat dewasa.

Berikut 5 sikap seseorang yang terlalu sering dipuji waktu kecil saat telah dewasa, seperti dilansir dari laman Hack Spirit.

  1. Mencari validasi

Orang-orang yang terlalu banyak dipuji di masa kecil mereka sering kali tumbuh dengan keinginan untuk diakui. Mereka sudah terbiasa dipuji sehingga mereka mulai menginginkannya saat dewasa.

Kebutuhan konstan untuk mendapatkan persetujuan ini bisa sangat membebani, hampir seperti dahaga yang tak terpuaskan yang tidak pernah terpuaskan. Mereka selalu mencari kepastian dari orang lain, membutuhkan tepukan di punggung agar merasa berharga.

Sifat seperti ini sebenarnya dapat mendorong mereka untuk melampaui batas dan meraih hal-hal hebat. Meskipun ada kekurangannya, kebutuhan akan pujian yang terus-menerus ini bisa menjadi tiket mereka menuju kesuksesan.

  1. Cenderung perfeksionis

Seseorang yang terlalu banyak dipuji saat masih kecil, Mereka terus-menerus diberitahu bahwa mereka adalah yang terbaik, jadi mereka mulai percaya bahwa mereka harus sempurna dalam segala hal yang mereka lakukan.

Hal ini dapat mengakibatkan tekanan yang berlebihan untuk tidak hanya meraih keberhasilan, tetapi juga untuk unggul. Ironisnya, dorongan untuk mencapai kesempurnaan kadang kala dapat berujung pada penundaan.

Ketakutan tidak mampu memperoleh hasil sempurna dapat menyebabkan mereka menunda tugas tanpa batas waktu, suatu perilaku yang sering disebut sebagai ‘kelumpuhan perfeksionis’.

Perfeksionisme itu sendiri tidak selalu merupakan sifat negatif. Perfeksionisme dapat mendorong seseorang untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi.

  1. Ketakutan akan kegagalan

Tekanan untuk terus-menerus berprestasi sering kali berubah menjadi rasa takut gagal yang mendalam. Anak-anak yang terlalu banyak dipuji terbiasa berada di atas tumpuan.

Mereka terbiasa menang dan meraih penghargaan. Pikiran tentang kegagalan saja bisa menakutkan. Ketika mereka menghadapi situasi yang berpotensi membuat mereka gagal, mereka mungkin memilih untuk keluar sepenuhnya daripada mengambil risiko gagal.

Ketakutan ini dapat menghalangi mereka mengambil risiko baru atau melangkah keluar dari zona nyaman. Seperti kata pepatah, kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan. Meskipun ketakutan ini valid, penting untuk diingat bahwa gagal itu wajar. Begitulah cara kita belajar dan berkembang.

  1. Berjuang membangun reputasi yang baik

Perjuangan untuk membangun reputasi yang baik bukanlah hal yang aneh. Ini adalah sesuatu yang dialami banyak dari kita yang terlalu dipuji saat masih anak-anak.

Kita begitu terbiasa dilihat dalam sudut pandang tertentu sehingga saat kita tidak memenuhi harapan tersebut, kita mulai meragukan harga diri kita. Namun seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa tidak apa-apa untuk tidak selalu sempurna.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore