Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 02.18 WIB

6 Tips Menghadapi Anak Tantrum Tanpa Drama: Tips Disiplin Agar Anak Lebih Tenang Tanpa Marah-marah

 

Orang tua dan anak yang tantrum/Freepik

JawaPos.com – Tantrum merupakan fase umum dalam proses tumbuh kembang anak. Fase tentrum biasaanya terjadi saat mereka sedang belajar mengekspresikan emosi dan keinginan yang belum bisa diungkapkan secara verbal.

Tapi ketika anak menangis histeris atau meronta-ronta hingga bergulung di lantai karena terhalang keinginannya, banyak orang tua merasa kewalahan dan tak jarang terjebak dalam reaksi marah atau frustrasi.

Namun fase ini menjadi penting terutama untuk orang tua untuk dalam menyikapi dan saling memahami sang buah hati.

Oleh karenanyak, fase ini harus dihadapi orang tua dengan pendekatan disiplin positif yang mengedepankan empati dan batasan tegas tanpa kekerasan.

Selain itu, penanganan yang tepat dapat membimbing anak untuk memahami bahwa perasaan mereka valid, sekaligus mengajarkan cara yang lebih tepat mengekspresikan emosi.

Dikutip dari Cdc.gov dan Parents.com, disiplin positif bukan tentang memberi hukuman, melainkan membangun koneksi emosional sambil menetapkan aturan yang jelas.

Dengan begitu, tantrum tidak lagi menjadi neraka emosi, tapi kesempatan bagi anak belajar mengatur diri.

Berikut langkah-langkah praktis yang bisa membantu orang tua menghadapi tantrum secara lebih bijak dan efektif

  1. Pahami Tantrum Sebagai Cara Anak Berkomunikasi

Tantrum umumnya muncul karena anak belum bisa menyampaikan keinginan atau rasa tidak nyaman, entah rasa lapar, lelah, atau butuh perhatian. Saat memahami ini, orang tua bisa merespon dengan empati terlebih dahulu.

  1. Tetap Tenang dan Validasi Perasaan

Menjerit atau marah hanya memperburuk situasi. Untuk itu, belajar tetap tenang saat anak tantrum sangatlah penting. Orang tua bisa berlutut sejajar, sembari  berkata, “Aku tahu kamu sangat marah sekarang,” untuk menunjukkan anak bahwa perasaannya dimengerti.

  1. Gunakan “Ignore & Redirect” untuk Tantrum Karena Cari Perhatian

Strategi “ignore and redirect” saat tantrum muncul semata-mata karena ingin mencari perhatian. Orang tua cukup mengabaikan rintihan dan mengalihkannya ke hal yang lebih positif. Misalnya alihkan ke mainan yang lebih positif atau ajak aktivitas tenang bersama.

  1. Gunakan Time‑In dan Hindari Hukuman Isolasi

Banyak orang tua terbiasa menggunakan metode time-out, yaitu mengasingkan anak ke sudut ruangan agar “mendingin” saat tantrum. Namun, pendekatan ini sering kali membuat anak merasa ditolak atau tidak dimengerti, apalagi jika ia belum cukup umur untuk memahami maksud dari isolasi tersebut.

Sebaliknya, pendekatan time-in lebih disarankan dalam disiplin positif. Dalam time-in, orang tua tetap berada di dekat anak saat tantrum berlangsung, namun tidak langsung menenangkan atau menyuruhnya diam. Orang tua cukup duduk di sampingnya sambil berkata lembut, “Ibu di sini kalau kamu sudah siap,” atau “Kalau kamu sudah tenang, kita bisa bicara.”

Tujuannya bukan langsung menghentikan tantrum, melainkan membantu anak merasa aman saat emosinya sedang tidak stabil. Kehadiran orang tua yang tenang dan tidak menghakimi justru mengajarkan bahwa emosi adalah hal yang boleh dirasakan, namun tetap perlu diarahkan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore