Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 23.27 WIB

7 Frasa yang Orang Tua Gunakan dan Tanpa Sadar Membuat Anak Tertekan Secara Emosional

7 Frasa yang Orang Tua Gunakan yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tertekan Secara Emosional - Image

7 Frasa yang Orang Tua Gunakan yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tertekan Secara Emosional

JawaPos.com - Mari jujur, menjadi orang tua memang tidak mudah. Setiap hari diisi dengan jadwal yang padat, kekacauan kecil, dan emosi yang datang silih berganti.

Kamu ingin membesarkan anak yang baik, percaya diri, dan cerdas secara emosional. Tapi di tengah kelelahan, sering kali mulut lebih cepat berbicara sebelum hati sempat berpikir.

Kalimat-kalimat yang mungkin dulu sering kamu dengar di masa kecil, tanpa sadar keluar begitu saja.

Padahal, beberapa frasa yang terasa “biasa saja” bisa membawa dampak emosional yang tidak kamu maksudkan. Tidak bermaksud menyakiti, tapi bisa membuat anak merasa tidak dianggap, bingung, atau bahkan malu atas perasaannya sendiri.

Dilansir dari VegOut, berikut tujuh frasa umum yang sebaiknya kamu hindari beserta alternatif yang bisa membantu membangun kedekatan dan kepercayaan emosional yang lebih kuat.

1. “Kamu baik-baik saja.”

Kalimat ini sering diucapkan dengan niat baik. Misalnya ketika anak terjatuh, takut ke dokter, atau menangis setelah hari yang berat—frasa “Kamu baik-baik saja” otomatis terlontar. Tapi benarkah mereka memang baik-baik saja?

Ketika kamu buru-buru menenangkan tanpa mengakui apa yang sebenarnya dirasakan, pesan yang sampai bisa jadi: Perasaanmu salah atau berlebihan.

Psikolog Dr. Becky Kennedy menjelaskan bahwa mengatakan “Kamu baik-baik saja” justru membuat anak merasa sendirian dalam ketidaknyamanannya.

Coba ganti dengan: “Itu pasti menyakitkan, ya?” atau “Kedengarannya menakutkan.”

Sedikit validasi seperti ini membuat anak merasa dipahami dan memberikan ruang untuk kenyamanan yang sebenarnya.

2. “Berhentilah menangis.”

Ini kalimat yang sering muncul di tengah rasa frustrasi atau karena kamu diajarkan bahwa menangis adalah kelemahan. Namun, kalimat ini bisa mengajarkan anak untuk menekan perasaannya, bukan memprosesnya.

Menangis karena pancake yang pecah mungkin tampak sepele bagi orang dewasa, tapi bagi anak kecil, itu bisa terasa seperti akhir dunia. Ketimbang memaksa mereka berhenti, lebih baik bantu mereka memahami perasaannya.

Coba katakan: “Kamu kecewa ya, karena pancake-nya rusak?” Perasaan tidak perlu diperbaiki, perasaan perlu dirasakan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore