Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 16.21 WIB

Kenapa Pujian Bisa Berdampak Negatif? Ini Cara Memuji yang Sehat

Ilustrasi orang tua dan anak - Image

Ilustrasi orang tua dan anak

JawaPos.com-- Pujian sering dianggap sebagai bahan bakar semangat anak. Tapi jika diberikan dengan cara yang salah, justru bisa menjadi racun.

Anak bisa tumbuh dengan rasa takut gagal, enggan mencoba, dan hanya melakukan sesuatu demi mendapat validasi.

Jika kamu terbiasa bilang “Good job!” atau “Hebat banget kamu!”, sekarang saatnya melihat ulang dampaknya. Simak ringkasan penjelasannya dari kanal YouTube Hazie and Motherhood:

Dampak Pujian Menurut Penelitian

Sebuah riset terkenal dari Dr. Carol Dweck, profesor psikologi di Stanford University, pernah mengungkapkan fakta mencengangkan. Dalam eksperimen tersebut, sekelompok anak diberi tes sederhana.

Setelahnya, sebagian dipuji karena kepintarannya, sementara yang lain dipuji karena usahanya.

Hasilnya mengejutkan. Anak-anak yang dipuji karena pintar cenderung memilih tantangan yang lebih mudah. Sebaliknya, anak-anak yang dipuji karena usaha justru lebih tertarik mencoba tes yang lebih sulit, meski berisiko gagal.

Mereka juga bertahan lebih lama dan tetap antusias meski dihadapkan pada tantangan besar.

Intinya, cara kita memuji bisa menentukan apakah anak tumbuh dengan growth mindset, percaya bahwa kemampuan bisa berkembang lewat usaha, atau fixed mindset, yang membuat mereka takut salah dan terjebak dalam zona nyaman.

Mengapa “Good Job” Tak Selalu Baik

Dalam pendekatan Montessori, pujian yang bersifat evaluatif seperti “pintar” atau “hebat” tidak dianjurkan. Alih-alih mendorong, pujian semacam itu justru bisa membuat anak tergantung pada penilaian eksternal.

Anak yang tadinya menikmati kegiatan menyusun puzzle, misalnya, bisa berubah jadi selalu mencari validasi dari orang dewasa.

Dr. Maria Montessori menyebut bahwa terlalu sering memuji justru memadamkan motivasi alami anak. Mereka jadi melakukan sesuatu bukan karena ingin, tapi karena berharap dipuji.

Hal ini juga diamini oleh psikolog lain seperti Dr. Wendy Grolnick. Ia menyebutkan bahwa pujian yang berlebihan bisa membuat anak merasa bahwa tujuannya adalah menyenangkan orang tua, bukan menikmati proses belajar itu sendiri.

Bahkan, riset terbaru menunjukkan bahwa pujian seperti “kamu luar biasa banget!” bisa membuat anak enggan bereksplorasi karena takut tak mampu memenuhi ekspektasi tersebut.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore