
Ilustrasi orang tua mengatakan hal yang menyakitkan pada anak (Dok. Freepik)
JawaPos.com--Sebagai orang tua, kita semua pasti pernah berada di titik kelelahan saat harus mengulang perintah yang sama berulang kali.
Lebih buruk lagi, suara yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi teriakan. Rasanya frustrasi, bukan karena anak nakal, tapi karena seolah-olah mereka tidak mendengar.
Namun sebenarnya, kunci agar anak mau mendengarkan bukanlah dengan suara keras atau ancaman, melainkan dengan memahami bagaimana cara otak mereka bekerja dan merespons.
Emma Hubbard, seorang terapis okupasi anak, dalam kanal YouTubenya, membagikan lima langkah sederhana yang bisa membantu anak mendengarkan tanpa harus membuat orang tua kehilangan kesabaran.
Metode ini tidak hanya efektif, tapi juga memperkuat koneksi antara orang tua dan anak. Berikut langkah-langkahnya dan cara menggunakannya dalam keseharian:
1. Bangun Koneksi Terlebih Dahulu
Anak-anak sering tenggelam dalam dunianya sendiri, entah sedang bermain, menonton TV, atau fokus pada sesuatu yang mereka sukai. Di saat seperti itu, instruksi dari orang tua bisa saja tak terdengar sama sekali.
Solusinya: dekati anak, sejajarkan tubuh dengan mata mereka, sentuh dengan lembut, dan panggil namanya. Tunggulah hingga mereka menatap mata kita. Kontak mata ini adalah tanda bahwa koneksi sudah terbentuk, baru kemudian sampaikan pesanmu.
2. Sesuaikan Instruksi dengan Usia Anak
Bayangkan otak anak seperti papan tulis kecil: jika terlalu banyak tulisan, ia akan penuh dan membingungkan. Maka, instruksi harus disesuaikan dengan usia dan kapasitas kerja otak mereka.
Berikut panduan singkatnya:
18 bulan: satu instruksi sederhana.
2 tahun: dua instruksi yang saling berkaitan.
3 tahun: dua instruksi yang tidak berkaitan.
5 tahun: tiga instruksi tidak berkaitan.
Sampaikan instruksi secara singkat, jelas, dan dalam bentuk positif. Hindari kata-kata seperti “jangan”. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan lari!”, lebih baik katakan “Jalan pelan-pelan, ya.”
3. Beri Jeda yang Sabar
Setelah memberi perintah, beri waktu bagi anak untuk memproses. Hitung sampai sepuluh dalam hati. Otak anak butuh waktu 7–10 detik untuk memahami, merencanakan, dan mulai bertindak.
Sabar menunggu ini jauh lebih efektif dibanding langsung mengulang-ulang perintah atau menaikkan suara.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
