Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Mei 2025 | 05.11 WIB

Atasi Konflik dengan Anak, Jangan Langsung Labeli Mereka Nakal, Cari Tahu Penyebabnya

7 Perilaku Orang Tua yang Mendidik Anak Nakal dan Pemberontak, Menurut Psikologi (freepik) - Image

7 Perilaku Orang Tua yang Mendidik Anak Nakal dan Pemberontak, Menurut Psikologi (freepik)

JawaPos.com - Orang tua kerap kewalahan saat menghadapi anak yang suka menolak, membantah, atau tidak patuh. Tak jarang, muncul label "nakal" yang dilontarkan sebagai bentuk kekesalan. Padahal, di balik sikap yang terlihat membangkang atau agresif, bisa jadi ada masalah emosional, tekanan sosial, atau kebutuhan khusus yang belum tertangani.

Menurut psikolog Amalina Salsabil, secara ilmiah tidak ada istilah anak nakal. Daripada melabel anak dengan kata "nakal", akan jauh lebih konstruktif bila orang tua menyebut perilaku spesifik yang ditunjukkan anak.

Misalnya, anak menolak ketika disuruh makan, atau membantah saat diajak belajar. Dengan begitu, pendekatannya bisa lebih tepat sasaran.

"Nakal itu terlalu umum dan maknanya sangat subjektif. Nakalnya versi Ibu A bisa beda dengan versi Ibu B. Kalau memang anaknya menolak, bilang saja anak menunjukkan perilaku menolak, bukan langsung divonis nakal," ujar Amalina Salsabil MPsi Psikolog.

Perilaku menolak, memberontak, atau tidak patuh pada anak, bisa jadi merupakan bagian dari fase perkembangan. Terutama pada anak usia dini yang sedang belajar memahami bahwa mereka punya keinginan dan pendapat sendiri.

"Kalau anak umur dua tahunan bilang 'nggak' terus, itu karena kemampuan berpikir dan emosinya sedang berkembang. Mereka sedang mencoba mengenali dunia dan dirinya," jelas psikolog klinis anak dan remaja itu. 

Pada fase ini, reaksi anak lebih didominasi oleh emosi daripada logika. Bahkan ketika anak usia sekolah menunjukkan perilaku menantang, Amalina menekankan pentingnya menggali alasan di baliknya.

"Mungkin dia tidak suka pelajarannya, tidak mengerti materi, atau hanya sekadar kelelahan setelah sekolah seharian," ucapnya.

Alih-alih langsung memarahi, orang tua disarankan untuk terlebih dulu menenangkan diri. "Ketika anak bilang 'nggak mau makan', misalnya, coba cari pendekatan lain. Mungkin dia ingin makan sendiri, atau memang belum lapar. Orang tua harus lebih fleksibel," sarannya.

Respons emosional orang tua yang meledak-ledak justru bisa memperburuk situasi. Amalina menekankan pentingnya kepekaan dan ketenangan. "Anak itu butuh didengarkan dulu. Kalau orang tua langsung emosi, ya pasti jadi makin kacau," kata dia.

Mengenai penggunaan hukuman sebagai alat disiplin, dia menyebut itu bukan metode yang efektif. Terlebih pada anak remaja yang sedang mencari jati diri dan ingin diakui sebagai individu mandiri. Cara pendekatan yang terlalu mengontrol justru bisa menjauhkan hubungan emosional anak dan orang tua.

Namun, bukan berarti orang tua tidak boleh menegur anak. Saat anak berulah di tempat umum, orang tua tetap bisa menegur, asalkan dilakukan dengan bijak.

"Tegurlah di ruang tertutup, bukan di depan umum. Supaya anak tidak merasa dipermalukan. Itu penting untuk menjaga harga diri anak," pungkas Amalina.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore