Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 23.26 WIB

4 Cara Efektif Hadapi Orang Tua Narsistik, Tanpa Harus Merusak Hubungan Keluarga

Ilustrasi anak menghadapi orang tua narsistik. (Pexels) - Image

Ilustrasi anak menghadapi orang tua narsistik. (Pexels)

JawaPos.comPernahkah merasa bingung dan lelah secara emosional setelah bertahun-tahun berusaha menyenangkan orang tua yang tampaknya tak pernah puas?

Tak sedikit anak tumbuh besar bersama sosok orang tua yang selalu ingin dikagumi, sulit menerima kritik, dan kerap mengabaikan perasaan anaknya. 

Mengutip dari PsychCentral, pola asuh seperti ini disebut pola asuh narsistik dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang tak selalu tampak dari luar. 

Luka batin yang terbentuk sering kali memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan menjalin hubungan dengan orang lain. 

Meski proses penyembuhan tidak selalu mudah, berbagai langkah terarah dapat membantu memulihkan kembali rasa aman dan kendali atas kehidupan.

1. Memaafkan Tanpa Membenarkan Perilaku

Penelitian tahun 2023 menemukan bahwa memaafkan dapat mengurangi kemarahan, kecemasan, dan depresi. 

Selain itu, memaafkan bisa meningkatkan harga diri, harapan, dan mengurangi stres, yang berdampak baik bagi kesehatan fisik seperti kualitas tidur, tekanan darah, dan kesehatan jantung.

“Memaafkan seseorang atas perilakunya bukan berarti membenarkan tindakan tersebut,” demikian dijelaskan dalam penelitian tersebut. Anda bisa memaafkan sambil tetap memahami bahwa perlakuan tersebut tidak benar.

2. Memutus Siklus yang Berulang

Sifat narsistik orang tua bisa berasal dari pengalaman buruk di masa kecil mereka, seperti kekerasan verbal, fisik, seksual, atau emosional. Mereka mungkin juga dibesarkan oleh orang tua yang memiliki sifat narsistik.

Menyadari adanya trauma antar generasi dan mulai membongkar siklus ini menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan.

3. Meresapi Rasa Kehilangan

Rasa kehilangan bisa muncul saat menyadari, masa kecil tidak seindah yang seharusnya. Seseorang mungkin merasa kehilangan pengasuhan yang hangat, masa kecil yang bebas, dan lingkungan yang stabil.

Kehilangan ini bisa meliputi tidak adanya penerimaan tanpa syarat, atau tidak punya ruang untuk mengembangkan jati diri. Mengakui dan memproses kehilangan ini adalah bagian dari perjalanan pemulihan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore