
Ilustrasi gaya parenting. (Pressfoto/Freepik)
JawaPos.Com - Menjadi orang tua adalah tugas yang penuh tantangan dan tanggung jawab besar. Setiap keputusan yang diambil dalam mendidik anak akan berpengaruh terhadap masa depan mereka. Namun, tanpa disadari, beberapa pola asuh yang dianggap wajar atau bahkan “terbaik” justru dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.
Menurut berbagai penelitian di bidang psikologi dan parenting, gaya parenting orang tua memiliki peran krusial dalam membentuk karakter, kepercayaan diri, serta kecerdasan emosional anak. Jika pola asuh yang diterapkan tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak, mereka berisiko mengalami berbagai masalah, mulai dari kesulitan bersosialisasi, gangguan emosional, hingga rendahnya motivasi belajar.
Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah gaya parenting yang diterapkan sudah benar? Apa saja pola asuh yang menurut penelitian justru berisiko menghambat perkembangan anak?
Dilansir dari laman Psychology Today, untuk para orang tua jangan sampai menyesal karena ada penelitian yang dibahas mengenai parenting yang harus kalian hindari karena bisa berdampak negatif pada perkembangan anak. Lalu, gaya parenting seperti apa yang perlu diwaspadai? Simak penjelasan berikut agar kamu tidak terjebak dalam pola asuh yang bisa berdampak negatif bagi buah hati.
Parenting Otoriter
Parenting otoriter adalah pola asuh yang menekankan kontrol ketat dengan sedikit kehangatan emosional. Berdasarkan penelitian dari Journal of Cognitive Psychotherapy, gaya ini dicirikan oleh tingkat disiplin yang tinggi tetapi minim dukungan emosional. Orang tua dengan pola asuh ini menetapkan aturan yang harus dipatuhi tanpa ruang untuk diskusi atau pengecualian.
Dampak negatif dari pola asuh ini bisa sangat signifikan terhadap perkembangan anak, menurut World Journal of Social Sciences, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan parenting gaya otoriter cenderung mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan dan pendapat mereka. Mereka mungkin merasa bahwa suara mereka tidak penting, yang pada akhirnya dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat mereka kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat di masa depan.
Sebagai contoh, jika seorang remaja pulang larut karena mengerjakan tugas kelompok di sekolah, orang tua dengan gaya otoriter mungkin tetap menghukumnya karena melanggar jam malam, tanpa mempertimbangkan alasan yang mendasarinya. Tidak ada ruang untuk kompromi, dan bentuk perlawanan atau pendapat berbeda dari anak sering kali disambut dengan hukuman tegas, seperti pembatasan aktivitas atau pencabutan hak-hak tertentu.
Untuk mengatasi dampak negatif gaya parenting otoriter, orang tua dapat mulai menerapkan pendekatan yang lebih seimbang dengan mengkombinasikan disiplin dengan kehangatan. Selain itu, penting bagi orang tua untuk lebih terbuka terhadap komunikasi dua arah dan mendengarkan perspektif anak sebelum mengambil keputusan. Pendekatan positif seperti memberi penghargaan atas perilaku baik daripada hanya menyoroti kesalahan juga dapat membantu anak merasa dihargai.
Parenting Laissez Faire
Laissez-faire berarti "membiarkan untuk melakukan," yang mencerminkan pendekatan orang tua yang memberi kebebasan luas kepada anak tanpa banyak intervensi atau aturan. Orang tua dengan gaya ini sering mengambil peran sebagai teman daripada figur otoritas, sehingga anak-anak diberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan sendiri tanpa banyak pengawasan atau disiplin.
Meskipun sekilas terlihat sebagai pola asuh yang penuh kasih dan suportif, pengasuhan permisif seringkali berdampak negatif karena kurangnya bimbingan dan akuntabilitas. Orang tua dengan gaya laissez-faire mungkin menghindari aturan karena takut membatasi kebebasan anak atau menciptakan ketegangan, tetapi pada akhirnya, ketidakhadiran batasan justru dapat menghambat perkembangan anak secara optimal.
Misalnya, ketika seorang anak mengamuk di tempat umum, orang tua dengan gaya ini mungkin memilih untuk menenangkan anak dengan hadiah seperti mainan atau permen, daripada mendisiplinkan mereka dengan cara yang tegas namun penuh pengertian. Dalam jangka panjang, dibesarkan dalam lingkungan permisif seringkali kesulitan membedakan antara benar dan salah.
Untuk mengatasi dampak negatif dari gaya parenting permisif, orang tua dapat mulai membangun keseimbangan antara kebebasan dan batasan. Salah satu langkah penting adalah menetapkan aturan yang jelas dan menjelaskan alasan di baliknya, sehingga anak memahami pentingnya disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
Parenting Tidak Terlibat

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
