Sejumlah mahasiswa melakukan orasi di depan Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Aksi tersebut dilakukan buntut meninggalnya pengemudi ojol Affan Kurniawan usai dilindas mobil rantis Brimob pada Aksi 28 Agustus 2025. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com-Aksi demonstrasi yang marak terjadi di berbagai daerah dalam beberapa pekan terakhir dinilai berpotensi memberi tekanan tambahan bagi industri otomotif nasional. Di tengah situasi politik yang belum stabil dan daya beli masyarakat yang menurun, pelaku usaha khawatir pasar mobil semakin terpuruk.
Data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat,
sepanjang Januari hingga Agustus 2025, total penjualan mobil wholesales hanya sebanyak 500.951 unit saja.
Angka tersebut turun 10,6 persen Year on Year (YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 560.552 unit
Dari sisi ritel, penjualan mobil secara ritel pun ikut menyusut 10,7 persen menjadi 522.162 unit, dibandingkan pada periode 8 bulan 2024 yang sebanyak 584.847 unit pada delapan bulan pertama 2024.
Terkait hal tersebut, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menegaskan bahwa industri otomotif sangat bergantung pada iklim ekonomi dan politik yang stabil.
Menurutnya, aksi unjuk rasa yang kerap terjadi di sejumlah kota menimbulkan ketidakpastian baru bagi konsumen maupun produsen. “Kami berharap kondisi segera kondusif agar pasar kembali pulih. Kalau situasi berlarut, target penjualan bisa meleset jauh,” ujar dia dihubungi JawaPos.com.
Gaikindo sendiri masih menahan target penjualan mobil sebanyak 900 ribu unit hingga akhir 2025, meski realisasi tujuh bulan pertama menunjukkan tren melemah.
Target itu sebelumnya dipatok dengan merujuk pada capaian 2024 yang menembus 865 ribu unit secara wholesales. Namun, dengan dinamika politik dan ekonomi yang tidak menentu, target tersebut kini dinilai semakin sulit dicapai.
Tekanan terhadap pasar otomotif ini menjadi cerminan rapuhnya sektor konsumsi di tengah gejolak politik. Jika gelombang demonstrasi terus berlangsung tanpa solusi, bukan hanya mobil yang terimbas, melainkan juga rantai pasok, tenaga kerja, hingga kontribusi sektor otomotif terhadap perekonomian nasional.
Sebagai informasi, gelombang demonstrasi di Indonesia tampaknya masih belum akan berhenti. Sebab, beberapa tuntutan yang dikemas dalam '17+8' tuntutan rakyat masih belum digubris oleh pemerintah dalam hal ini DPR.
Belum lagi efek dari reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (8/9) kemarin. Sejumlah kursi menteri diganti, termasuk jabatan paling krusial yakni Menteri Keuangan.
Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Gebrakan di sektor ekonomi yang saat ini masih dinantikan di tengah melemahnya daya beli jelas akan berpengaruh pada banyak sektor. Termasuk otomotif. (*)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
