
Ilustrasi: Ban mobil baru saat selesai dibuat di pabrik. (RianAlfianto/JawaPos.com).
JawaPos.com - Komposisi ban mobil, baik mobil listrik maupun mobil konvensional, pada dasarnya serupa. Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam aspek material dan desain, yang didasarkan pada kebutuhan dan karakteristik masing-masing jenis mobil.
Ban mobil listrik didesain khusus untuk mengedepankan efisiensi penggunaan daya. Mereka menggunakan ban jenis Low Rolling Resistance (LRR), yang memiliki daya berputar lebih baik, sehingga membantu mengurangi gesekan dan meningkatkan efisiensi energi.
Sementara itu, ban mobil konvensional tidak memiliki spesifikasi khusus terkait efisiensi energi. Desain dan jenis ban mobil konvensional lebih beragam dan bergantung pada kebutuhan performa mobil serta kondisi penggunaan.
Bahan dan Lapisan
Bahan dasar pembuatan ban mobil listrik dan konvensional berbeda secara signifikan. Ban mobil listrik cenderung menggunakan bahan-bahan yang lebih ringan dan berteknologi tinggi untuk memaksimalkan efisiensi energi.
Ban tersebut dirancang untuk mengurangi gesekan dan memperpanjang masa pakai.
Bahan dan lapisan yang digunakan dalam ban mobil konvensional lebih beragam. Namun, penggunaan campuran karet, serat, dan bahan penguat lainnya menyebabkan bobot ban lebih berat dan kurang efisien.
Ukuran dan Profil
Ukuran mobil listrik bervariasi untuk mengakomodasi baterai yang terpasang di bawah chassis. Profil ban juga berbeda dengan mobil konvensional untuk mengoptimalkan efisiensi dan kenyamanan.
Serupa dengan ban mobil listrik, ukuran dan bentuk ban mobil konvensional juga bervariasi. Ban mobil konvensional dirancang untuk menangani berbagai jenis kondisi jalan dan beban. Namun, hal tersebut bergantung pada jenis mobil, seperti mobil SUV, truk, sedan, dan lainnya.
"Beberapa merek ban mempunyai produk yang direkomendasikan yang cocok untuk mobil listrik, misalnya Dunlop, Michelin dan kami Bridgestone dengan T6 yang avilable untuk mobil listrik walaupun ban mobil konvensional. Intinya secara konstruksi ban tersebut harus memiliki load indeks yang ekstra low agar bisa mengakomodir karakteristik dari EV misalnya beban yang berat, kemudian mempunyai karakter torsi instan akselarinya tiba tiba deselerasi tiba tiba. Jadi dengan ban yang ekstra load, ini bisa dilihat didinding ban ada kode XL di T6," ujarnya.
Fisa menjelaskan kalau ban tersebut (after market) juga didesain khusus kontruksinya, sebaiknya pilih ban yang tipe Eco. Karena ban Eco itu mempunyai hambatan gulir yang rendah agar bisa maksimum rangge nya (jarak tempuh).
"Ban Eco di kita ada dan dimerek lain juga ada. Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah ban tersebut harus mempunyai karakteristik pola telapak yang halus ataupun asimetrik. Agar noise yang dihasilkan khusus di aspal itu bagus. Namun ban seperti itu noise akan terasa saat melewati jalanan konkrit (beton) itu yang mengganggu. Makanya kalau ban ban untuk EV premium didalamnya ada busa atau spon untuk mereduksi itu (noise)," kata Fisa.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
