Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Agustus 2024 | 03.15 WIB

Pakai Ban dan Tidak Perlu Rel, ini yang Perlu Diketahui soal Autonomous Rail Transit alias Trem Otonom di IKN  

Presiden Joko Widodo bersama para menteri menjajal Trem Otonom di IKN, Selasa (13/8). (Ferlynda Putri/Jawa Pos Koran) - Image

Presiden Joko Widodo bersama para menteri menjajal Trem Otonom di IKN, Selasa (13/8). (Ferlynda Putri/Jawa Pos Koran)

JawaPos.com - Jelang Hari Ulang Tahun ke-79 Kemerdekaan RI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau trem otonom atau Autonomous Rail Transit (ART), di IKN, Selasa (13/8). 

Presiden Jokowi mengatakan, salah satu kelebihan dari penggunaan trem otonom adalah biaya operasional yang relatif murah. Sebab, pengoperasian trem otonom tidak berbasis rel dan cukup menggunakan jalan yang sudah ada.

“Trem otonom kira-kira harganya Rp70-an miliar satu unit rangkaian. Kalau kita mau membangun MRT itu per kilometernya Rp 2,3 triliun. Kalau kita mau membangun LRT itu kurang lebih Rp700 miliar per kilometer. Bedanya di situ,” terang Jokowi

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang mendampingi Presiden menyampaikan, trem otonom akan berfungsi sebagai kendaraan pengumpan (feeder) bagi peserta upacara Hari Kemerdekaan RI.Baca Juga: Trem Otonom Bakal Diuji Coba di IKN pada 10 Agustus 2024

Trem tersebut akan beroperasi dengan kecepatan jelajah 40 km/jam di Jalan Sumbu Kebangsaan Barat dan Jalan Sumbu Kebangsaan Timur.

“Waktu tempuh untuk satu putaran adalah 5 menit, dengan waktu tunggu di tiap halte 30 detik. Terdapat 4 halte yang akan menjadi pemberhentian trem otonom. Yakni Halte Kemenko 1, Kemenko 2, Kemenko 3, serta Kemenko 4,” ujar Budi Karya.

Soal teknologinya, trem otonom menggunakan tenaga listrik yang bersumber dari baterai. Sehingga diharapkan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemakaian energi.

Pengoperasian trem otonom juga diklaim menggunakan baterai yang disubstitusikan dengan marka jalan dan magnet. Hal tersebut juga diharapkan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dan pemakaian energi.

Spesifikasi teknis lainnya mencakup panjang 30,2 meter, lebar 2,65 meter, dan daya tampung maksimal 302 penumpang.

Trem otonom berbobot penuh 54 ton ini dapat mengaspal dengan kecepatan maksimal 80 kilometer per jam. Selain itu, gradient maximum mencapai 10 persen, dan minimum turning radius 15 meter.

ART atau Trem Otonom (TO) tersebut juga merupakan moda transportasi massal berbasis listrik. Moda transportasi tersebut masih menggunakan roda karet yang bergerak pada rel virtual dalam batas tertentu. 

Trem Otonom menggabungkan karakteristik kereta (light rapid transit/LRT) dan bis (bus rapid transit/BRT). Trem Otonom merupakan moda yang berbentuk seperti kereta LRT tetapi tidak beroperasi di atas rel.

Satu trainset kereta otonom terdiri atas tiga kereta dengan kapasitas hingga 300 orang. Sementara satu rangkaian kereta dengan lima gerbong disebut dapat menampung hingga 500 penumpang.

Trem otonom akan melalui Fase Pengujian atau Fase Operasi Trem Otonom (POC) selama 60 hari sejak 10 Agustus hingga 9 Oktober 2024. Pengujian dimaksudkan untuk lebih mengetahui kelayakan operasi angkutan bikinan Tiongkok itu.

Setelah dievaluasi, pada 10 Oktober hingga 31 Desember 2024 trem otonom akan dipamerkan (showcase) untuk umum. Selama masa showcase, masyarakat dapat menikmati trem otonom secara gratis.

Editor: Bayu Putra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore