
Pemasangan konverter bahan bakar gas di mobil. (Istimewa)
JawaPos.com - Pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi Indonesia masih belum massif, meskipun potensinya besar dalam mendukung transisi energi bersih dan menekan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).
Melihat peluang ini, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina, terus menggencarkan program konversi BBM ke BBG, salah satunya lewat inisiatif CSR yang menyasar pengemudi kendaraan daring.
Melalui program ini, PGN membagikan converter kit BBG kepada 40 unit mobil online, 30 unit beroperasi di Jakarta dan 10 unit lainnya di Surabaya. Dengan sistem dual fuel, kendaraan dapat menggunakan BBG atau tetap memakai BBM secara fleksibel.
Langkah ini diyakini tidak hanya mendukung efisiensi energi, tapi juga terbukti mengurangi emisi karbon dan menekan biaya operasional harian pengemudi.
Sejak 2023, PGN bersama anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia dan Komunitas Mobil Gas (Komogas) telah mengkonversi total 187 kendaraan BBM ke BBG. Dari jumlah tersebut, 80 unit dilakukan pada 2023, 67 unit di 2024, dan 40 unit di 2025.
Di luar program CSR, anggota Komogas secara mandiri telah mengkonversi 102 kendaraan ke BBG.
"Komitmen Indonesia menuju Net Zero Emissions 2060 membutuhkan kontribusi nyata dari seluruh sektor, termasuk transportasi. Konversi ke BBG adalah solusi yang dapat segera diimplementasikan karena infrastruktur sudah tersedia," kata Fajriyah Usman, Sekretaris Perusahaan PGN melalui keterangannya.
Lebih dari sekadar upaya pengurangan emisi, penggunaan BBG juga dinilai berdampak langsung pada kesejahteraan pengemudi.
Santiaji Gunawan, Direktur Utama Gagas Energi Indonesia, mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar dapat ditekan hingga 30 persen karena harga BBG saat ini hanya Rp 4.500 per Liter Setara Premium (LSP), jauh lebih murah dibandingkan harga BBM nonsubsidi.
"BBG adalah langkah strategis untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien dan ramah lingkungan. Selain membantu pengemudi menghemat biaya, ini juga berkontribusi pada pengurangan impor BBM," jelas Santiaji.
Selain itu, hasil evaluasi dari Komogas menunjukkan bahwa para pengemudi lebih memilih BBG sebagai bahan bakar utama. Salah satu kendaraan anggota bahkan mencatat jarak tempuh hingga 10.987 km dalam sebulan, dengan sekitar 80 persen perjalanan menggunakan BBG.
"Ini menegaskan bahwa infrastruktur BBG saat ini sudah cukup mendukung untuk operasional kendaraan jarak jauh," ujar Andy Lala Lumban Gaol, Ketua Komunitas Mobil Gas.
Komogas juga terus memperkuat edukasi dan dukungan terhadap anggotanya. Mulai dari pengembangan aplikasi mobile pencari SPBG terdekat, pelatihan penggunaan sistem BBG, hingga penyelenggaraan Pelatihan Teknisi Konversi dan Pemeliharaan Kendaraan BBG pada akhir Juni 2025, yang diikuti oleh 20 peserta dari berbagai wilayah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
