Ilustrasi truk bermuatan lebih dan over dimensi melintas di lajur tol Cikopo-Palimanan.
JawaPos.com-Kendaraan Over Dimension dan Over Load (ODOL) masih menjadi masalah klasik namun serius dalam dunia transportasi jalan di Indonesia. Meski sudah lama menjadi perhatian, kendaraan yang melebihi batas dimensi dan kapasitas muatan tetap berseliweran di jalanan.
Baca Juga: Rezeki Lancar Tanpa Hambatan, 8 Shio yang Dapat Cuan Terus-Menerus dan Selalu Mudah Dapat Uang
Fenomena tersebut membawa konsekuensi yang mahal. Kerusakan infrastruktur, meningkatnya risiko kecelakaan, hingga persaingan usaha yang tidak sehat menjadi persoalan yang mengakar dan sulit diselesaikan.
Banyak pelaku industri logistik, karena tekanan efisiensi dan kompetisi biaya, masih tergoda menggunakan kendaraan ODOL demi menekan ongkos. Sayangnya, cara instan ini justru menyisakan dampak jangka panjang yang merugikan banyak pihak, termasuk negara dan masyarakat luas.
Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai upaya sudah dijalankan, razia terpadu, modernisasi jembatan timbang, hingga penindakan administratif dan pidana. Namun di lapangan, hasilnya belum sepenuhnya menggembirakan.
Muhammad Akbar, pemerhati transportasi menilai, menyelesaikan masalah kendaraan ODOL menghadapi tantangan beragam, dari keterbatasan personel hingga resistensi pelaku usaha yang merasa tidak punya banyak pilihan.
Namun, dirinya menggarisbawahi, yang menjadi catatan penting, pendekatan selama ini cenderung bersifat represif, fokus pada sanksi, tapi minim insentif. Akibatnya, regulasi terasa sebagai beban, bukan dorongan.
"Kepatuhan pun cenderung temporer dan formalistik, bukan sesuatu yang tumbuh dari kesadaran bersama," kata Akbar melalui keterangannya kepada JawaPos.com.
Padahal, di tengah iklim usaha yang makin ketat, pendekatan yang semata-mata galak hanya akan menambah jarak antara regulator dan pelaku usaha.
Akbar menilai, menertibkan ODOL bukan hanya soal memberi hukuman, tapi juga soal memberi penghargaan. Di balik layar, ada banyak pelaku usaha yang telah berupaya keras menyesuaikan diri, mengurangi muatan, mengganti bodi kendaraan, bahkan membeli armada baru. Semua itu butuh investasi besar dan risiko tinggi.
"Sayangnya, mereka yang taat ini belum benar-benar mendapatkan dukungan konkret. Apresiasi sejauh ini hanya sebatas simbolik, belum menyentuh sisi ekonomis yang nyata," ungkapnya.
Di sinilah pentingnya membangun sistem insentif yang adil. Jika pelanggaran memberikan keuntungan ekonomi, maka kepatuhan akan selalu kalah saing. Tapi jika mematuhi aturan justru membuka peluang baru, diskon, subsidi, kemudahan akses maka budaya tertib diyakini bisa tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Apa bentuk insentif yang bisa mendorong perubahan, Akbar menilai bentuknya bisa beragam, seperti diskon tarif tol untuk kendaraan yang telah memenuhi standar dimensi dan muatan.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
