Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Januari 2025 | 23.58 WIB

Kebutuhan Chip Otomotif Mobil Listrik, Perusahaan Domestik Tiongkok Bergantung 90 Persen pada Pemasok Asing

Perkenalan BYD Seal. (scmp.com)

JawaPos.com - Produksi kendaraan listrik (EV) di Tiongkok yang meningkat memicu permintaan chip otomotif dengan jumlah tinggi. Namun, perusahaan domestik masih bergantung pada pemasok asing pada lebih dari 90 persen kebutuhan mereka.
 
Bahkan, pejabat dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) dan Pusat Penelitian Pengembangan Dewan Negara telah berulang kali menggarisbawahi rendahnya swasembada Tiongkok dalam semikonduktor otomotif. 
 
"Saat ini, tingkat swasembada chip otomotif di Tiongkok kurang dari 10 persen," kata Wakil Direktur Institut Komponen dan Material di MIIT, Luo Daojun, seperti dilansir dari South China Morning Post, Rabu (1/1).
 
Bahkan, Wakil Direktur di Pusat Penelitian Pengembangan, Wang Qing, mengatakan, ketergantungan Tiongkok pada pemasok chip otomotif asing mencapai 95 persen. 
 
"Untuk chip komputasi dan kontrol, tingkat swasembada kurang dari 1 persen, sedangkan untuk chip daya dan memori, hanya 8 persen," ungkap dia.
 
 
Ketergantungan terhadap chip impor ini menjadi masalah yang lebih besar, setelah Beijing berupaya menegaskan kepemimpinannya di pasar kendaraan listrik global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat.
 
Bahkan, pemerintah Tiongkok telah mendesak para produsen mobil agar mendapatkan hingga 25 persen chip mereka dari dalam negeri pada 2025.
 
Tekanan ini muncul lantaran pesatnya pertumbuhan produksi kendaraan listrik. Hingga November 2024, Tiongkok telah memproduksi 11,49 juta kendaraan listrik sepanjang tahun, meningkat 37,5 persen dari tahun ke tahun. 
 
Lebih jauh, kendaraan listrik menyumbang 40,8 persen dari semua mobil yang diproduksi di negara itu.
 
Ledakan produksi ini menyebabkan melonjaknya permintaan semikonduktor, karena kendaraan listrik dan pintar membutuhkan lebih banyak chip daripada mobil bermesin pembakaran internal tradisional. 
 
 
Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok (CAAM) mengatakan, mobil tradisional biasanya membutuhkan 600 hingga 700 chip per kendaraan, sedangkan kendaraan listrik membutuhkan sekitar 1.600. Kendaraan pintar, yang dilengkapi dengan fitur yang lebih canggih, membutuhkan hingga 3.000 chip.
 
Meningkatnya kepadatan chip juga bisa menghasilkan nilai semikonduktor yang lebih tinggi per kendaraan. 
 
Meskipun terdapat dorongan dari Beijing, sektor otomotif Tiongkok tampak masih jauh dari mencapai kemandirian semikonduktor. Pemain global seperti Infineon Technologies, NXP Semiconductors, STMicroelectronics, Texas Instruments, dan Renesas Electronics terus mendominasi pasar.
 
Di segmen chip canggih sekalipun, pemain asing masih memimpin dengan selisih yang lebar. 
 
Dari Januari hingga September, chip Orin-X milik Nvidia dan chip FSD milik Tesla masing-masing menguasai 37,8 persen dan 26,7 persen pasar pengendali domain pengemudian cerdas pra-instal di Tiongkok. Perusahaan Amerika Serikat, Qualcomm juga memimpin dalam penyediaan chip untuk dasbor di kokpit kendaraan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore