Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 November 2024 | 03.50 WIB

Tiongkok Pimpin Penggunaan dan Produksi Mobil Listrik, Jepang Unggul Jualan hibrida,

Sejumlah pengunjung melihat mobil listrik yang di pajang di Living World Alam Sutera, Tangerang Selatan, Rabu (13/11/2024). (Hanung Hambara/ Jawa Pos) - Image

Sejumlah pengunjung melihat mobil listrik yang di pajang di Living World Alam Sutera, Tangerang Selatan, Rabu (13/11/2024). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Dalam beberapa tahun terakhir, industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Asia Pasifik telah melonjak. Tiongkok memimpin dalam penggunaan dan produksi.

Sementara Jepang unggul dalam penjualan hibrida, dan pasar India mulai menyusul. Di Indonesia, peralihan ke EV telah menunjukkan perkembangan positif.

Secara global, pasar EV mengalami pertumbuhan yang didorong meningkatnya kepedulian lingkungan, insentif pemerintah, dan kemajuan teknologi. Pasar utama, seperti Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat, memimpin dalam adopsi EV, dengan kebijakan kuat yang mendukung transisi ke mobilitas listrik.

Pada tahun 2030, banyak negara telah menetapkan target ambisius untuk menghapus Mesin Pembakaran Dalam (Internal Combustion Engines/ICE), yang semakin mendorong industri EV.

Menurut PwC Indonesia yang telah melakukan studi mengenai kesiapan kendaraan listrik Indonesia di 2024 untuk mempresentasikan kondisi adopsi EV saat ini, pendorong transformasi, tantangan, dan perspektif konsumen di berbagai segmen.

Sebagai bagian dari studi global di 27 wilayah, ini memungkinkan perbandingan antara Indonesia dan pasar lain di Asia Pasifik (APAC), Amerika Latin (LATAM), Amerika Utara (NA), Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA)

Studi ini mengidentifikasi tiga segmen responden di pasar: pemilik EV, prospek EV, dan skeptis EV. Dengan hanya 7% responden yang sudah memiliki EV, 93% sisanya terbagi antara 78% yang berniat membeli satu dalam lima tahun ke depan dan 15% yang tetap skeptis.

Selain itu, 60% responden pemilik EV adalah perempuan, 51% prospek EV adalah perempuan, dan 55% skeptis EV adalah laki-laki.

Dinamika ini menyoroti potensi pasar Indonesia yang belum terjamah, yang jika dimanfaatkan secara efektif, dapat menempatkan negara ini sebagai salah satu pemimpin di kawasan ini. 

Selain itu, dengan sumber daya nikel melimpah yang merupakan bahan baku penting untuk baterai, Indonesia siap menjadi pemain kunci di pasar baterai EV, sehingga dapat menarik investasi dan pengembangan yang signifikan. 

Hendra Lie, PwC Indonesia Automotive Leader, menyampaikan, Kamis (14/11) dengan menerapkan kebijakan strategis dan menawarkan insentif yang menarik.

Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan pengolahan nikel tetapi juga mendorong pertumbuhan manufaktur EV dan baterai domestik.

"Ini menempatkan Indonesia sebagai kontributor utama dalam pergeseran global menuju transportasi berkelanjutan," ujarnya.

Mobil EV Bekas

Temuan signifikan lainnya adalah bahwa pasar EV bekas di Indonesia masih dalam tahap awal. Berbeda dengan wilayah yang lebih berkembang, di mana EV bekas populer, hanya 20% pemilik saat ini di Indonesia yang tertarik membeli EV bekas.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore