Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Agustus 2024 | 00.14 WIB

Jangan Mau Rugi, Ini Faktor yang Memengaruhi Depresiasi Harga Mobil yang Dibeli Baru Saat Ingin Dijual Bekas

Ilustrasi: Mobil baru di diler. (Istimewa).

JawaPos.com - Ada banyak alasan kenapa orang-orang lebih senang membeli mobil dalam keadaan baru, unit profit keluar dari diler. Salah satunya adalah kepuasan dalam memilki mobil, tinggal pakai, nggak perlu pusing biaya perbaikan ini dan itu seperti membeli mobil bekas atau mobil seken.

Namanya saja mobil bekas, sebaik apapun kondisinya, tetap butuh perhatian dan kesiapan untuk perbaikan beberapa komponen yang habis masa pakainya. Nah, hal tersebutlah yang dihindari mereka yang lebih cenderung memilih mobil baru.
 
Namun membeli mobil baru juga nggak selamanya menguntungkan. Ada waktu kapan pemilik ajak merasa rugi. Yakni saat hendak menjual unit seken mereka. Jangan sakit hati, ya, bisa jadi penyusutan atau depresiasi harga mobil bekas akan jauh dari saat mobil tersebut dibeli dalam kondisi baru.
 
Penyebab dan faktor depresiasi nilai mobil baru sendiri ada beragam. Berikut selengkapnya:
 
 
Merek Mobil
 
Tingkat penyusutan mobil memang berlaku menyeluruh untuk tiap komponennya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi depresiasi harga mobil. Faktor pertama depresiasi mobil adalah merek mobil itu sendiri.
 
Merek mobil memang memberi pengaruh besar terhadap munculnya penyusutan mobil. Depresiasi harga tinggi kerap terjadi pada mobi-mobil mewah. Hal ini tidak lepas dari tingginya biaya perawatan unitnya.
 
Kondisi Mobil 
 
Kondisi mobil memberikan pengaruh terhadap besar atau kecilnya penyusutan mobil hingga premi asuransi. Kondisi mobil yang bagus tentunya akan membuat nilai depresiasi harga mengecil. 
 
Sebagai antisipasi penyusutan nilai karena kondisi mobil, sebelum menjual unit disarankan untuk melakukan sedikit perawatan. Pada bodi, misalnya dilakukan repaint atau memoles body mobil atau memperbaiki yang kurang-kurang sedikit.
 
 
Warna Mobil
 
Jangan salah, warna menjadi salah satu indikator besar atau kecilnya tingkat persentase penyusutan kendaraan yang akan terjadi. Mobil dengan warna hitam, putih, silver, atau grey pun diklaim memiliki potensi depresiasi harga yang rendah.
 
Peminat warna-warna tersebut sangatlah banyak. Hal ini berpengaruh pada harga jual kembali yang relatif bisa lebih dijaga. Beda halnya dengan warna-warna yang mentereng, yang kurang disukai, maka akan jatuh harga jual kembalinya.
 
Daya Serap Pasar
 
Depresiasi harga juga ditentukan menurut kemampuan daya serap pasar terhadap mobil bekas. Pola penyusutan mobil bekas menurut pajak ini mengikuti hukum ekonomi. Artinya jika permintaan tinggi dan stok terbatas, maka depresiasi harga akan berkurang.
 
 
Jarak yang Sudah Ditempuh 
 
Jarak tempuh ikut berpengaruh terhadap nilai jual dan depresiasi mobil. Pasar biasanya enggan memilih mobil dengan jarak tempuh penggunaan tinggi. Tingginya catatan jarak tempuh menjadi indikator beban mobil dan berpengaruh terdapat beragam komponen yang ada di dalamnya.
 
Usia Mobil
 
Terakhir sebagai pamungkas, yang paling mempengaruhi depresiasi mobil adalah usianya. Menurut laman Insureka, Tingkat penyusutan mobil memang berlaku menyeluruh untuk tiap komponennya. 
 
Dan usia mobil juga sangat berpengaruh terhadap harga jual kembalinya. Mengacu usianya, depresiasi mobil bisa berkisar antara 15% hingga 20%. Besar penyusutan mobil berapa tahun akan maksimal pada tahun pertama pembeliannya. 
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore