Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 Desember 2019 | 22.03 WIB

Adopsi Massal Mobil Listrik, Indonesia Masih Banyak Tantangannya

Diskusi Economic Outlook Kesiapan Industri Otomotif Menuju Era 4.0 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12). (Rian Alfianto/JawaPos.com) - Image

Diskusi Economic Outlook Kesiapan Industri Otomotif Menuju Era 4.0 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12). (Rian Alfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com - Aspek harga yang masih sangat tinggi menjadi salah satu faktor adopsi massal kendaraan listrik di Indonesia masih sulit terwujud. Adopsi secara massal mobil listrik di Indonesia diprediksi baru akan terwujud dalam 10 sampai 15 tahun ke depan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menyampaikan, kemampuan konsumen mobil di Indonesia masih berada di kisaran Rp 300 juta. "Kalau mobil listrik harganya masih di atas Rp 800 juta, itu akan sulit untuk tumbuh," ujar Kukuh saat diskusi Economic Outlook Kesiapan Industri Otomotif Menuju Era 4.0 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12).

Di negara maju seperti Inggris saja, menurut Kukuh, adopsi mobil listrik membutuhkan waktu yang tak sebentar. "Kunci yang paling besar adalah pada harga, adopsi mobil listrik rata-rata 15-20 tahun tergantung pada GDP negara yang bersangkutan," jelas Kukuh.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Zainal Arifin, Team Leader EV Infrastructure Development PLN. Menurutnya, paling cepat, Indonesia baru akan bisa mengadopsi mobil listrik pada 2030 mendatang.

"Dari segi ekonomis baterai, nilai ekonomi baterai mobil listrik baru akan bisa turun (lebih murah) pada 2030," ungkapnya. Sebagai informasi, salah satu yang membuat mobil listrik menjadi mahal adalah pada sisi baterainya.

Pada kesempatan yang sama, Chief Econom Danareksa Research Institute (DRI) Moekti Prasetiani Soejachmoen memaparkan, secara global, proporsi produksi mobil listrik akan terus meningkat dengan pertumbuhan produksi mobil keseluruhan sebesar 25 persen.

"Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia siap dengan business plan untuk mobil listrik atau konsumsinya ketika meningkat. PLN misalnya akan menyediakan charging station bekerja sama dengan Pertamina," jelas Moekti.

Meski dikatakan siap, lanjut Moekti, hambatan selain dari sisi harga untuk adopsi mobil listrik di Indonesia adalah masih banyak keraguan dari sisi konsumen. Dari sisi permintaan, beberapa concern konsumen adalah sektor edukasi tentang running of power ketika kehabisan daya saat di jalan.

Kemudian ketersediaan charging station di Indonesia juga masih belum banyak infrastrukturnya. Terakhir, harga mobil listrik yang mahal untuk pembelian awal membuat konsumen masih belum nyaman membelinya.

Sektor otomotif lainnya, menurut Moekti, tidak hanya mobil, tetapi juga ada komponen lainnya. Salah satu faktor yang membuat Indonesia agak tertinggal adalah keterlibatan pada global production network (GPN) yang sangat lemah. Hal itu juga yang membuat adopsi mobil listrik menjadi terhambat di Tanah Air.

"Dari sisi penawaran, Indonesia memiliki kesempatan untuk bergabung pada GPN baru di mobil listrik dengan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan dari sisi produksi baterai. Itu tantangannya, partisipasi kita pada GPN masih rendah, konsistensi kebijakan pemerintah pada mobil masa depan dan sumber listrik bagi mobil listrik masih belum jelas," tegas Moekti.

Untuk GPN, Kukuh menambahkan, yang menyebabkan Indonesia menjadi lemah adalah kebijakan modal asing yang terlalu kaku. Faktor lain, tingginya biaya transaksi perdagangan karena adanya hambatan perdagangan dan kesiapan tenaga kerja serta fokus pasar juga perlu diperhatikan.

"Indonesia dapat berpartisipasi dalam GPN mobil listrik dengan fokus pada industri baterai sesuai dengan cadangan SDA yang ada di Indonesia. Kesiapan sumber daya manusia penting untuk menjaga daya saing dengan negara lain dan terutama dalam pengembangan mobil Iistrik," tandas Moekti.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore