Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juli 2019 | 19.46 WIB

Menilik Proyek Mata Uang Libra, Tetap Berjalan Meski Ditolak AS

Ilustrasi: mata uang kripto, libra, bikinan Facebook. (Cnet) - Image

Ilustrasi: mata uang kripto, libra, bikinan Facebook. (Cnet)

JawaPos.com - Facebook rupanya benar-benar merambah bisnis mata uang kripto dengan mengenalkan libra. Libra ini nantinya bakal menyasar pengguna layanan Facebook, termasuk WhatsApp dan Instagram, untuk transaksi keuangan.

Sebagaimana JawaPos.com lansir dari laman Cnet, Selasa (23/7), libra nantinya akan digunakan untuk membeli barang. Mata uang kripto ini juga bisa ditukar ke mata uang asli secara online atau melalui toko-toko offline. Bisa pula untuk mengirim uang ke sesama pengguna.

Libra ditargetkan bisa digunakan mulai 2020 mendatang. Namun, belum jelas apakah ketersediaannya serempak di seluruh dunia atau bertahap di beberapa negara terlebih dahulu.

Photo

Ilustrasi: dompet digital Calibra untuk menyimpan mata uang kripto, libra. (9to5mac)

Facebook juga menyediakan dompet digital bernama calibra. Pengguna bisa menyimpan mata uang libra dalam dompet digital calibra yang nantinya bakal tersemat di Facebook, WhatsApp, dan Instagram.

Menyangkut keamanan, Facebook mengklaim tidak akan mencampur data personal di Facebook dengan transaksi libra. Identitas pengguna disembunyikan seperti halnya bitcoin. Dengan begitu, pengguna bisa bertransaksi dengan nama samaran dan bebas dari penargetan iklan Facebook.

Dalam mengoperasikan libra, Facebook tak sendirian. Media sosial besutan Mark Zuckerberg ini membuat Libra Association dengan beberapa anggota seperti Visa, Mastercard, Paypal, eBay, Uber, Stripe, Lyft, Uber, hingga Spotify.

Photo

Libra Association. (Cnet)

Namun demikian, proyek Facebook tersebut rupanya banyak mendapat penolakan. Terutama dari pemerintah dan parlemen Amerika Serikat (AS). Parlemen AS telah meminta Facebook untuk menghentikan pengembangan mata uang kripto libra.

Bukan tanpa alasan, anggota parlemen AS menyatakan ketidakpercayaan mereka terhadap Facebook mengingat rekam jejak buruknya seputar privasi dan keamanan. Hal ini setelah terungkapnya skandal Cambridge Analytica. Selain itu, libra juga memunculkan kekhawatiran serius seperti untuk pencucian uang serta stabilitas keuangan.

Sementara itu, Kepala Cryptocurrency Facebook David Marcus menolak moratorium tersebut dan menyatakan bahwa perusahaan akan terus mengerjakan proyek tersebut. Dia memastikan akun pelanggan dan semua informasi keuangan tidak akan dibagikan dengan Facebook Inc. Sehingga pengguna libra tak perlu takut digunakan untuk target iklan.

Marcus juga mengatakan bahwa libra bukanlah alat investasi seperti saham dan obligasi. Melainkan hanya alat pembayaran yang mampu menjangkau lebih banyak pengguna. "Libra adalah alat pembayaran, bukan investasi. Jadi libra seperti uang tunai. Orang-orang akan menggunakannya untuk mengirim uang kepada anggota keluarga di negara lain, atau untuk melakukan pembelian," jelas Marcus.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore