Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Mei 2026 | 18.20 WIB

Ancaman Siber Berbasis AI Meningkat, Perusahaan Mulai Kewalahan Hadapi Serangan Digital

Ilustrasi Ancaman siber berbasis AI Meningkat. (Istimewa) - Image

Ilustrasi Ancaman siber berbasis AI Meningkat. (Istimewa)

JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah pola ancaman keamanan siber di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Jika sebelumnya serangan siber dilakukan secara konvensional, kini pelaku kejahatan digital mulai memanfaatkan AI untuk membuat serangan lebih cepat, masif, dan sulit dideteksi.
 
Kondisi tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dirilis Fortinet bersama Forrester Consulting.
 
Riset yang melibatkan ratusan pengambil keputusan keamanan siber di kawasan Asia Pasifik itu menunjukkan banyak organisasi kini menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya ancaman digital berbasis AI.
 
Dalam laporan tersebut, sekitar 69 persen organisasi mengaku khawatir terhadap ancaman siber berbasis AI. Sementara 64 persen lainnya menilai sistem keamanan internal yang terlalu kompleks justru membuat perlindungan digital semakin sulit dikelola.
 
Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan pelaku serangan siber kini memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan.
 
“Pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta.
 
Tak hanya ancaman dari luar, banyak perusahaan juga masih menghadapi masalah internal karena sistem keamanan yang berjalan terpisah-pisah.
 
Akibatnya, tim keamanan kesulitan memantau ancaman secara menyeluruh dan sering kewalahan menghadapi lonjakan notifikasi keamanan digital setiap hari.
 
Sekitar 46 persen organisasi bahkan mengaku kesulitan membedakan ancaman nyata dengan aktivitas normal di sistem mereka. Selain itu, banyak perusahaan masih mengandalkan proses manual dalam mendeteksi serangan siber.
 
Kondisi ini membuat perusahaan mulai beralih ke sistem keamanan yang lebih terintegrasi dan otomatis.
 
Project Lead Forrester Consulting, Amelia Lau, mengatakan kompleksitas sistem kini menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko keamanan siber.
 
Menurutnya, pendekatan keamanan berbasis platform terpadu akan membantu meningkatkan efisiensi dan visibilitas ancaman digital.
 
Di sisi lain, penggunaan AI dalam sistem keamanan siber juga mulai meningkat. Sebanyak 95 persen organisasi di Asia Pasifik disebut berencana menambah investasi AI untuk mendukung keamanan digital.
 
Teknologi tersebut dinilai mampu membantu mendeteksi ancaman lebih cepat, meningkatkan akurasi analisis, dan mempercepat respons saat terjadi serangan.
 
Meski begitu, para ahli mengingatkan penggunaan AI tetap membutuhkan sistem data dan infrastruktur keamanan yang saling terhubung agar bisa bekerja maksimal.
 
Tanpa integrasi yang baik, AI justru berpotensi menambah kompleksitas sistem keamanan digital perusahaan.
Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore