Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 17.52 WIB

Kematian Tragis Driver Ojol yang Dilindas Mobil Brimob Picu Protes ACAB di Media Sosial

ACAB: Frasa perlawanan terhadap polisi yang bertindak represif dan terkesan jadi alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. (ultrasdistrict) - Image

ACAB: Frasa perlawanan terhadap polisi yang bertindak represif dan terkesan jadi alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaan. (ultrasdistrict)

JawaPos.com - Slogan All Cops Are Bastards atau ACAB menggema di media sosial semalaman ini sejak pecahnya kerusuhan demonstrasi Jakarta pada Kamis (28/8). Puncaknya adalah kematian driver ojol yang tewas digilas mobil polisi. Mobil lapis baja, kendaraan taktis yang dibeli dari pajak, uang rakyat, malah dipakai merepresi warga sipil.

ACAB sendiri sejatinya bukanlah frasa baru di Indonesia. Sudah cukup lama terdengar, terpampang di tembok-tembok fasilitas umum baik sebagai seni jalanan atau simbol perlawanan berbentuk vandalisme.

Sejarah Penggunaan Slogan ACAB

Di banyak negara, ACAB bukan sekadar sumpah serapah. Ia adalah ekspresi kekecewaan mendalam terhadap aparat kepolisian yang dianggap lebih sering menjadi alat penindasan ketimbang pelindung. 

Puluhan tahun lalu, tepatnya akhir 70-an dan awal 80-an, anak-anak punk, skinhead dan kelas pekerja di Inggris menuliskan empat huruf itu di dinding kota, di jaket kulit, hingga dijadikan tato sebagai simbol perlawanan terhadap sistem yang mereka rasa korup dan brutal.

Sejak awal kemunculannya, ACAB memang dimaksudkan sebagai kritik terhadap sistem, bukan sekadar aparat perorangan. Polisi, menurut para pengusung slogan itu, terjebak dalam struktur yang secara inheren menindas. 

Pasukan Brimob Polri membuat barikade pertahanan saat mengamankan aksi 28 Agustus 2025 di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Salman Toyibi/ Jawa Pos) terlibat bentrokan dengan petugas kepolisian di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025).

Di Eropa, ia menjadi teriakan di stadion, lagu protes band punk, hingga grafiti di dinding kota. Di Indonesia, ia kini menemukan konteks baru: kekecewaan mendalam terhadap aparat yang lagi-lagi terlibat dalam tragedi berdarah.

Kini, di Jakarta, perasaan serupa seperti terpantul kembali. Di tengah asap gas air mata dan sirine yang meraung, nyawa seorang pengemudi ojol melayang. 

Mobil polisi yang seharusnya menjaga keamanan justru melindas rakyat yang mestinya mereka lindungi. Adegan itu bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menyulut amarah kolektif masyarakat.

Di media sosial, publik ramai-ramai mengutuk tragedi ini. “Rakyat bayar pajak, polisi beli mobil, lalu rakyat sendiri yang ditabrak,” tulis seorang warganet. 

Kalimat pendek yang sarat ironi itu viral, mempertegas betapa renggangnya jarak antara rakyat dengan institusi kepolisian hari ini.

Tragedi Kamis (28/8) lalu seolah menjadi bukti nyata mengapa slogan ini terus hidup lintas generasi dan lintas negara. Bukan karena semua polisi jahat, melainkan karena publik semakin sulit percaya pada institusi yang seharusnya menjadi garda depan perlindungan rakyat.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore