
Organisasi nirlaba Garuda Hacks baru saja menyelenggarakan Indonesia Hacks 6.0 di Gading Serpong. Ajang kompetisi teknologi pemrograman (coding) untuk pelajar, mahasiswa, dan umum. (Hilmi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Keahlian coding atau pemrograman semakin diminati masyarakat Indonesia. Pelakunya bukan hanya di kalangan pelajar sampai mahasiswa saja. Tetapi juga diminati oleh masyarakat yang sudah bekerja atau profesional.
Tingginya minat masyarakat terhadap coding itu diantaranya tergambar dari kegiatan Indonesia Hacks 6.0 yang diselenggarakan Garuda Hacks. Mereka adalah organisasi nirlaba yang berupaya memasyarakatkan kemampuan pemrograman, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial Intelligence/AI) di Indonesia.
Managing Director Garuda Hacks 6.0 Dominic Moreno mengatakan, total peserta kompetisi tahunan itu sekitar 550 orang. Dia menyampaikan kompetisi itu terbuka untuk umum, tanpa batasan umur atau pendidikan.
Sebanyak 50 persen peserta mahasiswa program S1, 35 persen siswa SMP dan SMA, dan 15 persen sudah bekerja atau profesional. "Ada tiga tema besar yang kami pilih," Rabu (30/7). Yaitu Sustainability, Connecting Cultures, dan Education & Equity.
Total peserta yang masuk mendaftar sekitar 550 peserta atau tim. Sebanyak tujuh peserta terbaik diundang untuk presentasi di depan dewan juri.
Managing Director Indonesia Hacks 6.0 Maria Gracia Athalia mengatakan Indonesia Hacks adalah sebuah organisasi nirlaba. Visi mereka adalah mengenalkan Hackathon kepada masyarakat Indonesia.
"Di dunia Hackathon itu sudah banyak dikenal secara luas. Kami pingin di Indonesia juga dikenal luas," katanya.
Untuk diketahui Hackathon adalah acara kompetisi yang mempertemukan para pengembang, desainer, dan pemikir kreatif. Tujuannya untuk berkolaborasi dalam menciptakan solusi atau produk teknologi dalam waktu terbatas.
Personel lain yang terlibat dalam kegiatan itu adalah Ralph Benedict Soemali selaku Director Marketing Indonesia Hacks. Kemudian ada Gerard Genki Weno, Emily, dan Jonathan Cornelis Lay.
Salah satu peserta Indonesia Hacks 6.0 adalah tim Jalur Mimpi. Mereka mencoba mencarikan solusi banyaknya anak muda yang bingung menentukan karir yang cocok dengan minat serta keahliannya.
Anandhio Varistama Personel Tim Jalur Mimpi mengatakan platform yang mereka bangun itu memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). "Banyak anak muda bingung menentukan karir. Kami membuat platform untuk mengarahkan karir yang cocok," kata Anandhio.
Dia menceritakan sistem operasinya sangat mudah. Teknologi AI yang sudah mereka benamkan di platform Jalur Mimpi akan melakukan analisa profil dari user atau pengguna. Mereka menggunakan kecerdasan artifisial berbasis Gemini AI.
"Hasil analisis itu, akan menyuguhkan tiga jenis karir atau profesi kepada user," katanya.
Misalnya profesi peneliti, dosen, dan desainer. Setelah muncul tiga pilihan profesi itu, berikutnya user memilih satu profesi atau karir yang diinginkan.
Platform Jalur Mimpi kemudian melakukan pengolahan kembali. Sehingga menghasilkan paparan skil apa saja yang harus diperkuat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
